Keterlibatan negara lain dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi semakin meluas. Salah satu negara yang disebut berpotensi ikut terseret dalam eskalasi tersebut adalah Korea Utara (Korut).
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan kemungkinan keterlibatan Korea Utara dapat muncul jika konflik terus berlarut dan melibatkan lebih banyak kekuatan besar dunia.
Menurut Hikmahanto, salah satu indikator meluasnya konflik adalah ketika negara-negara lain mulai memberikan dukungan militer kepada pihak yang sedang bertikai.
Indikasinya kalau sejumlah negara ikut dalam perang membantu, misalnya saja Korea Utara yang tidak punya kepentingan, mungkin jauh, tapi dia melihat pokoknya kalau ada Amerika di situ dia akan hadir, wah ini juga bisa terjadi perluasan konfliknya,”
kata Hikmahanto pada Owrite, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menilai pola tersebut bukan hal baru dalam dinamika geopolitik global. Korea Utara sebelumnya juga pernah menunjukkan dukungan terhadap negara yang berseberangan dengan Amerika Serikat dalam konflik internasional.
Karena kan kita tahu, Korea Utara di perang Rusia dengan Ukraina, mereka menyumbang 1.000 pasukan ke Rusia,”
ujar dia.
Menurut hemat Hikmahanto, jika semakin banyak negara yang terlibat dalam konflik tersebut, maka risiko eskalasi menjadi konflik berskala lebih besar akan semakin terbuka.
Situasi ini juga memperlihatkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya menjadi persoalan regional, tetapi berpotensi berkembang menjadi arena persaingan geopolitik global yang melibatkan berbagai kekuatan militer dunia.
Sekali lagi, kalau perang itu tidak selesai dalam waktu yang dekat ini, jadi lama, dan yang dikhawatirkan adalah negara-negara yang punya nuklir itu ikut di dalam (perang) situ,”
tutupnya.


