Perayaan Hari Raya Idul Fitri 2026 tinggal menghitung hari. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, jutaan masyarakat akan berbondong-bondong meninggalkan kediamannya untuk kembali ke kampung halaman.
Fenomena setahun sekali ini menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu banyak orang dan seolah menjadi budaya. Namun di balik itu, terdapat banyak tugas yang harus diperhatikan pemerintah, mulai dari pengamanan, infrastruktur yang nyaman, hingga memastikan para pemudik selamat sampai tujuan.
Polri selaku leading sector yang mengepalai Operasi Ketupat 2026 telah berkoordinasi bersama TNI, kementerian/lembaga, dan instansi terkait melalui rapat koordinasi lintas sektoral untuk mengamankan jalannya mudik.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah melakukan pemetaan target operasi pengamanan, mulai dari jalur mudik, ancaman cuaca ekstrem, hingga pengamanan tempat wisata dan tempat ibadah. Operasi Ketupat 2026 akan digelar mulai 13 Maret sampai dengan 25 Maret 2026 dengan melibatkan 161 ribu personel gabungan.
Ada 161 ribu personel gabungan, terdiri dari Polri, kemudian TNI, instansi terkait, dan seluruh stakeholder. Dan ini tentunya kita harapkan untuk betul-betul bisa bekerja sama dengan maksimal untuk keberhasilan pelayanan arus mudik maupun arus balik,”
kata Sigit dalam sambutan Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Kesiapan Pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 di PTIK, Jakarta Selatan, Senin, 2 Maret 2026.
Jalur Mudik ‘Langganan’ Padat
Polri memprediksi kepadatan arus mudik bakal pecah dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 14-15 Maret, sementara gelombang kedua pada 18-19 Maret. Prediksi itu juga berbarengan dengan arus balik yang diperkirakan terjadi pada 24-25 Maret dan 28-29 Maret 2026.
Sepanjang ruas Tol Trans Jawa hingga jalur Pantura menjadi langganan kemacetan. Penyebabnya antara lain adanya penyempitan ruas jalan atau bottleneck. Bukan hanya di tol Pulau Jawa, jalur Trans Sumatera hingga Palembang juga diprediksi turut menyumbang kepadatan kendaraan. Sebagai langkah antisipasi, Kapolri meminta jajarannya untuk memanfaatkan jalur tol fungsional.
Pengoperasian tol yang fungsional tentunya juga perlu dioptimalkan, terutama memanfaatkan jalur-jalur tol fungsional,”
ujar Sigit.
Selain di ruas jalan tol, jalur arteri seperti Bandung, Nagreg, Garut, Tasikmalaya, hingga jalur Legian-Kuta di Bali, juga menjadi jalur favorit pemudik. Biasanya jalur tersebut kerap dilintasi pemudik kendaraan roda dua.
Berdasarkan catatan Analisa dan Evaluasi (Anev) Operasi Ketupat 2025, Kapolri Sigit mengungkapkan, pergerakan penumpang menggunakan transportasi umum, secara umum mengalami tren penurunan sebesar 9,3 persen. Namun demikian, beberapa moda transportasi justru mengalami peningkatan.
Untuk angkutan laut naik 26,9 persen, angkutan udara naik 2,1 persen dan kereta api naik 3,2 persen. Berkaca dari musim mudik tahun lalu, Sigit mengatakan telah terjadi perputaran ekonomi yang signifikan.
Di tahun kemarin terjadi perputaran uang dari pusat ke daerah sekitar Rp137 triliun. Tentunya kita harapkan pengamanan Operasi Ketupat Tahun 2026 ini juga bisa berhasil dengan maksimal,”
ujar Kapolri.
Merujuk data Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, sebanyak 143,9 juta orang diperkirakan bakal mudik tahun ini. Angka ini turun 1,7 persen dibandingkan periode tahun lalu.
Berdasarkan hasil Survei Angkutan Lebaran 2026, Jawa Barat diperkirakan menjadi provinsi asal pemudik terbesar dengan total 30,97 juta orang atau 21,52 persen dari jumlah pergerakan nasional. Sementara itu, Jawa Tengah menjadi daerah tujuan favorit dengan proyeksi 38,71 juta orang atau 26,90 persen dari total pemudik.
Demi mendukung kelancaran perjalanan, kebijakan Work From Any Where (WFA) juga didorong agar kepadatan lalu lintas bisa terurai sehingga perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman. Berbagai sarana transportasi juga telah disiapkan untuk mudik, yakni 31.345 bus, 2.683 kereta, 392 pesawat, 829 kapal laut, hingga 255 kapal penyeberangan.
Manfaatkan Skema Lalu Lintas
Untuk menjaga arus lalu lintas tetap berjalan lancar, Polri bakal menerapkan sejumlah skema rekayasa lalu lintas. Langkah ini sekaligus untuk menekan angka kepadatan kendaraan selama arus mudik hingga arus balik.
Tentunya strategi rekayasa lalu lintas juga akan terus kita lakukan berdasarkan pengalaman yang ada. Mulai one way nasional, one way lokal, contraflow, hingga pengaturan di rest area,”
kata Sigit.
Sigit merinci pemberlakuan sistem one way bakal dimulai dari Kilometer 70 dengan pembersihan jalur dan rest area dua jam sebelumnya.
Rekayasa ganjil genap nantinya akan diterapkan mulai dari KM 47 sampai dengan KM 414 Semarang-Batang. Kemudian contraflow diberlakukan dari KM 47 sampai dengan KM 70.
Penerapan rekayasa lalu lintas juga akan dilakukan di jalur-jalur wisata. Momentum libur Lebaran 2026 kerap dimanfaatkan masyarakat untuk berlibur di sejumlah destinasi.
Menurut Sigit, kawasan Puncak Bogor masih menjadi tempat favorit masyarakat untuk berlibur. Beberapa lokasi wisata lain juga akan diantisipasi.
Kemudian Lembang Bandung, Wonosobo, Bromo, kemudian wilayah Bali dan wilayah-wilayah lain yang harus diantisipasi,”
ujar Kapolri.
Yang saya ingatkan juga bahwa biasanya pasca kegiatan Lebaran masyarakat akan melaksanakan kegiatan wisata. Oleh karena itu, kali ini ada 4.666 lokasi wisata yang harus kita amankan,”
tambahnya.
PR Besar Musim Mudik 2026
Musim mudik kali ini, Polri bersama pemerintah bakal menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Kondisi cuaca ekstrem belakangan menyebabkan beberapa lokasi berpotensi rawan bencana. Cuaca ekstrem tersebut berpotensi menyebabkan jalan rusak, pohon tumbang, hingga banjir rob.
Pekerjaan besar lainnya, Lebaran 2026 juga berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Kapolri pun mengatensi adanya pengaturan penyeberangan antara Jawa Timur dan Bali. Sebagai langkah antisipasi, Polri mendirikan 2.746 posko yang terdiri dari 1.624 pos pengamanan sebagai pusat informasi sekaligus pengamanan arus lalu lintas, 779 pos pelayanan, dan 343 pos terpadu.
Jika merujuk data kecelakaan Korlantas Polri, sepanjang pelaksanaan Operasi Ketupat 2025 tercatat 1.477 kecelakaan lalu lintas terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Rinciannya, 223 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.
Meski masih menimbulkan korban jiwa, angka kecelakaan pada musim mudik tahun tersebut dinilai lebih terkendali. Dibandingkan Operasi Ketupat 2024 yang mencatat 2.152 kecelakaan dengan 324 korban meninggal dunia, jumlah kejadian pada 2025 turun sekitar 31 persen.
Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Jhonny Eddizon Isir, menyebut posko tersebut juga menunjang pengamanan terhadap 185.544 objek yang terdiri dari 121.796 masjid, 54.516 lokasi salat Idul Fitri, 4.640 objek wisata, 2.962 pusat perbelanjaan, 618 terminal, 562 pelabuhan, 268 stasiun kereta api, 182 bandara, serta berbagai titik keramaian lainnya.
Penitipan Kendaraan Gratis
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, sebagaimana instruksi Kapolri Sigit, seluruh jajaran di wilayah diminta menyiapkan fasilitas penyimpanan yang memadai dan aman untuk menampung kendaraan warga yang ditinggal mudik.
Polri memberikan pelayanan penitipan kendaraan bermotor di kantor kepolisian setempat bagi masyarakat yang nantinya akan melaksanakan kegiatan mudik,”
ungkap Dedi Prasetyo.
Dedi menegaskan, layanan penitipan kendaraan ini disediakan secara cuma-cuma bagi pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat. Syaratnya, masyarakat hanya perlu menunjukkan identitas diri serta surat kepemilikan kendaraan yang sah.
Langkah ini, kata dia, juga bertujuan menjamin keamanan dari sisi kriminalitas. Selain itu, penitipan di kantor polisi juga dapat mengurangi kepadatan parkir liar di bahu jalan pemukiman yang kerap menghambat akses mobil pemadam kebakaran maupun patroli lingkungan.
Di sisi lain, menurutnya momentum mudik acap kali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi kejahatan di kawasan permukiman yang sepi penghuni.
Tak Ada Operasi Yustisi di DKI
Tradisi mudik Lebaran tidak hanya diiringi masyarakat pulang ke kampung halaman, tetapi juga dibarengi datangnya para pelancong dari luar daerah ke Jakarta. Para pendatang tersebut mencoba beradu nasib di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui tidak akan melakukan operasi yustisi terhadap para pendatang dari daerah. Jakarta, sambungnya, akan tetap terbuka bagi siapa pun masyarakat dari daerah.
Operasi yustisi sendiri biasanya dilakukan oleh aparat kepolisian dan instansi terkait melalui pemeriksaan identitas guna mencegah pelancong yang tidak memiliki tujuan jelas saat datang ke Ibu Kota.
Saya tidak akan memerintahkan untuk mengadakan yustisi ataupun screening untuk itu. Jadi Jakarta terbuka bagi siapa saja,”
ucap Pramono.
Orang nomor satu di DKI itu menegaskan, Jakarta siap menampung masyarakat yang ingin beradu nasib. Namun demikian, Pramono mengingatkan masyarakat daerah yang ingin datang ke Jakarta agar mengantisipasi berbagai kemungkinan di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Memang dalam kondisi dunia seperti ini ketika terjadi perang di mana-mana, Ukraina-Rusia, kemudian di Timur Tengah Israel dengan Amerika dan juga dengan Iran, menurut saya kita perlu kehati-hatian,”
imbuhnya.

