Sejak beberapa hari terakhir, beberapa daerah di Indonesia dilanda suhu udara yang lebih panas dari biasanya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu udara maksimum yang terukur di wilayah Indonesia mencapai 37,2°C, tepatnya di Jawa Barat pada tanggal 13 Maret 2026.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan kondisi cuaca yang terasa lebih panas ini umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis, antara lain berkurangnya tutupan awan sehingga radiasi matahari dapat diterima permukaan secara lebih optimal, serta kecepatan angin yang relatif lemah sehingga sirkulasi udara kurang efektif.
Kondisi seperti ini lazim terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba), ketika langit cenderung lebih cerah pada siang hari dan pemanasan maksimum menjadi lebih kuat,”
ujar Ida kepada owrite, baru-baru itu.
Selain itu, di wilayah perkotaan seperti Jakarta, banyaknya permukaan beton dan aspal juga turut menyerap dan menyimpan panas lebih lama, sehingga suhu terasa lebih gerah dibandingkan wilayah sekitarnya.
Jadi, memang ada kondisi peningkatan suhu maksimum yang teramati, namun secara umum hal ini masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer saat masa transisi musim,”
jelas Ida.
Ida melihat, ke depan, kondisi udara yang terasa panas ini masih berpotensi terjadi, terutama pada siang hari saat tutupan awan berkurang, meskipun peluang pembentukan awan dan hujan masih tetap ada karena sebagian wilayah Indonesia saat ini masih berada pada periode akhir musim hujan atau masa transisi menuju musim kemarau.
Dampak Cuaca Panas
Ida menyebut cuaca panas pada musim transisi secara umum dapat menimbulkan berbagai dampak, baik terhadap kesehatan, lingkungan, maupun aktivitas masyarakat.
Dari sisi kesehatan, kondisi udara yang lebih panas dapat menyebabkan tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi, kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan kesehatan seperti sakit kepala dan heat stress, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan.
Dari sisi lingkungan, suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat penguapan sehingga menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih kering dan meningkatkan potensi kekurangan air di beberapa wilayah.
Sementara itu, dalam kegiatan sehari-hari, cuaca panas juga dapat mengurangi kenyamanan beraktivitas, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan kebutuhan penggunaan pendingin ruangan dan konsumsi air.
Pada musim transisi, kondisi ini sering terjadi bersamaan dengan perubahan cuaca yang cepat, sehingga masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan cuaca panas pada siang hari yang dapat diikuti hujan lokal pada sore atau malam hari,”
ungkapnya.
Ida pun mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dan mengurangi paparan langsung sinar matahari pada siang hingga sore hari, terutama saat aktivitas di luar ruangan.
Pastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi dengan memperbanyak minum air, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta mengenakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan tetap memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, mengingat pada masa peralihan musim kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat, termasuk potensi terjadinya hujan disertai kilat atau petir dan angin kencang pada waktu tertentu,”
tutup Ida.


