Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi mempengaruhi konektivitas dan mobilitas wisatawan internasional.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan situasi geopolitik global mulai berdampak pada operasional maskapai penerbangan, termasuk penyesuaian rute penerbangan jarak jauh serta kenaikan biaya perjalanan akibat lonjakan harga bahan bakar.
Kawasan Timur Tengah selama ini menjadi salah satu hub strategis bagi perjalanan wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia. Kondisi geopolitik yang berkembang di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi arus perjalanan internasional menuju Indonesia.
Pemerintah memperkirakan potensi dampak langsung terhadap kunjungan wisatawan mancanegara dapat mencapai sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Jika kondisi tersebut berlanjut, potensi kehilangan devisa diperkirakan berkisar antara Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari.
Pariwisata Indonesia sebenarnya sedang berada pada momentum yang sangat baik. Pada tahun 2025 kami mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan capaian devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS. Meski pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya menyumbang 21,7 persen dari total kunjungan, kontribusi devisanya mencapai 34,7 persen karena mereka merupakan wisatawan dengan tingkat pengeluaran yang tinggi,”
ujar Widiyanti, Selasa, 24 Maret 2026.
Untuk mengantisipasi berbagai potensi dampak tersebut, Kementerian Pariwisata menyiapkan lima strategi mitigasi utama, antara lain,
- Verifikasi Pasar Wisatawan Mancanegara
Kemenpar melakukan versifikasi pasar wisatawan mancanegara dengan memperkuat promosi pada pasar jarak pendek dan menengah yang memiliki konektivitas penerbangan relatif stabil, seperti Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India.
Dalam waktu dekat, calon wisatawan akan melihat lebih banyak kampanye promosi yang menampilkan Indonesia sebagai destinasi alternatif yang menarik, aman, dan stabil untuk dikunjungi.
- Mengoptimalkan Penerbangan Langsung
Selain itu juga mengoptimalkan penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat tetap menjaring wisatawan dari pasar Eropa, terutama menjelang musim libur musim semi dan musim panas.
- Memperkuat Promosi Digital
Strategi ketiga adalah penguatan promosi digital berbasis data untuk menjangkau calon wisatawan secara lebih tepat sasaran, sekaligus meningkatkan efektivitas kampanye pariwisata Indonesia di berbagai pasar potensial.
- Memperkuat Pergerakan Wisatawan
Strategi keempat adalah memperkuat pergerakan wisatawan nusantara dengan mendorong masyarakat Indonesia untuk berwisata di dalam negeri. Upaya ini menjadi semakin relevan terutama menjelang momentum libur Lebaran yang biasanya diiringi dengan peningkatan mobilitas masyarakat.
- Mendorong Penyelenggaraan Event di Berbagai Wilayah
Dan yang terakhir adalah mendorong penyelenggaraan berbagai event pariwisata di wilayah perbatasan untuk menjaga dinamika ekonomi pariwisata di berbagai daerah. Wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura yang berkunjung ke wilayah Kepulauan Riau, misalnya, memiliki kecenderungan untuk melakukan kunjungan berulang.
Karena itu peluang ini perlu dimanfaatkan secara optimal antara lain dengan menawarkan paket wisata golf, wisata belanja, wellness, dan berbagai pengalaman wisata lainnya,”
kata Widiyanti.
Selain itu, Menteri Pariwisata juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, antara lain dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Imigrasi, dan Kementerian Keuangan, untuk mengeksplorasi berbagai kebijakan yang dapat memperkuat daya saing pariwisata Indonesia.
Beberapa opsi yang sedang didorong antara lain penambahan kapasitas kursi penerbangan, peningkatan keterjangkauan harga tiket, serta kebijakan bebas visa kunjungan bagi pasar-pasar potensial.
Langkah-langkah tersebut penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tengah situasi global yang membutuhkan strategi yang responsif dan adaptif,”
tandasnya.



