Selain itu, pemerintah juga bakal menerapkan pendekatan mekanisme pasar, agar penyerapan aspal buton dapat berkelanjutan.
Pemerintah tengah menyiapkan skema bauran aspal buton 30 persen atau yang disebut program “A30”.
Program ini mengadaptasi kesuksesan program bauran kelapa sawit pada BBM (biodiesel).
Jadi, yang akan kami kerjakan hari ini sebetulnya copy-paste pemerintahan dulu (yang) menggaungkan B10, kemudian naik jadi B20, B30, sampai B50. Saya yakin A30 bisa dengan mudah kami capai,”
ujar dia.
Dody yakin program A30 bakal bisa dipakai untuk seluruh jalan di Indonesia. Dengan syarat harga harus kompetitif, tidak boleh terlalu mahal dibandingkan dengan kondisi hari ini.
Optimalisasi aspal buton ini secara langsung mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2026-2049 menuju swasembada aspal nasional.
Kementerian mencatat peningkatan penggunaan aspal buton hingga 30 persen tidak hanya mengamankan pasokan material, tapi juga memberikan efek ganda. Berikut dampaknya:
Penghematan devisa negara diperkirakan mencapai Rp4 triliun, disertai potensi penambahan penerimaan pajak hingga hampir Rp2 triliun.
Secara keseluruhan, penciptaan nilai tambah ekonomi diproyeksikan menyentuh Rp23 triliun;
Menciptakan rantai pasok baru dalam negeri. memperkuat struktur industri nasional, dan membuka ribuan lapangan kerja baru;
Penggunaan aspal buton akan meningkatkan kualitas pengadaan dan standar mutu, baik bagi penyelenggara jalan, produsen, asosiasi, jasa konstruksi.
Merujuk data Kementerian Pekerjaan Umum, kebutuhan aspal nasional saat ini sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan melonjak menjadi 1,5 juta ton pada tahun-tahun berikutnya. Sayangnya, pemenuhan kuota tersebut masih bergantung kepada pihak asing.