Epidemiolog, Ahli Kesehatan Masyarakat, sekaligus Pengamat kebijakan Kesehatan dari Griffith University, Dicky Budiman menyoroti fenomena keracunan massal yang menimpa 72 siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur usai menyantap spaghetti dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Dicky, sebanyak 72 siswa keracunan MBG dengan mengkonsumsi spaghetti, ini sangat kuat mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.
Dari sisi epidemiologi, sekali lagi ini kan korbannya dalam waktu singkat, sumber makanannya sama, lokasinya juga terbatas ya di sekolah. Jadi ini jelas, point of source-nya itu jelas. Dan artinya ada satu titik kegagalan dalam rantai keamanan pangannya,”
ujar Dicky kepada owrite, Senin, 6 April 2026.
Dicky mengatakan dugaan penyebab paling rasional adalah potensi bakteri penghasil toksin dari staphylococcal food poisoning.
Kemungkinan dari kontaminasi tangan penjamah makanan dan juga toksin tahan panas, meski dipanaskan berulang, tetap akan berbahaya.
Atau bisa juga karena bacillus serious infection. Jadi ini juga bisa terjadi pada makanan seperti pasta. Dan terjadi kalau makanannya itu dimasak terus didiamkan suhu ruang terlalu lama, kemudian ada dipanaskan ulang. Atau juga bisa karena kesalahan manajemen suhu. Makanan tidak disimpan di suhu lebih dari 60 derajat Celcius atau disebut dengan hot holding, atau kurang dari 5 derajat Celcius pada cold chain. Ini adalah faktor yang paling sering ya dalam outbreak makanan massal,”
papar Dicky.
Menurut Dicky, faktor sistemik yang kemungkinan berkontribusi ini tidak boleh dilihat sebagai kesalahan individu semata.
Karena dalam konteks public health ini biasanya melibatkan kegagalan hazard analysis critical control point.
Jadi akibat tidak adanya identifikasi titik kritis pada proses masak, penyimpanan maupun distribusi.
Termasuk juga buruknya kualitas food handler. Jadi tidak terlatih higienitas sanitasi dan juga tidak ada screening kesehatan,”
tambahnya
Lebih lanjut Dicky nengatakan meski kasus keracunan seperti ini self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya setelah beberapa waktu, namun tetap berisiko terutama pada anak-anak.
Kejadian keracunan yang kerap terjadi membuat kepercayaan masyarakat terhadap program MBG semakin buruk dan semakin menurun. Akhirnya menurunkan efektivitas dari program itu sendiri dan dukungannya semakin menurun.
Sekali lagi kejadian seperti ini tidak boleh diabaikan. Harus ada investigasi menyeluruh dan lengkap. Termasuk juga audit sistem dan juga perbaikan. Nah ini yang masih jadi PR dan terkesan menurut saya terabaikan,”
tandasnya.


