9 April 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengeluarkan keterangan tertulis soal perkembangan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus.
Pernyataan tersebut ia sampaikan tepat satu hari setelah Puspom TNI menyatakan tahap penyidikan perkara Andrie telah dilimpahkan kepada Oditur Militer.
Kami memandang, pernyataan Wapres tersebut tidak dapat dimaknai selain penyelesaian kasus Andrie Yunus harus diselesaikan melalui peradilan umum. Sebab, dalam konteks ini hanya peradilan umum yang memungkinkan keterlibatan hakim ad-hoc dan bukan peradilan militer,”
kata Muhamad Isnur, perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan, dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Dalam konteks kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap Andrie, pernyataan Gibran adalah sinyal kuat bahwa negara meyakini terdapat permasalahan serius yang berkaitan dengan profesionalitas, rekam jejak, dan integritas para pihak di dalam peradilan militer itu sendiri, sehingga dibutuhkan hakim ad-hoc untuk menjamin kepercayaan publik dan muruah hukum.







