Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Guru Besar UGM Sentil Pidato Prabowo: Demokrasi Suram jika Hidup dalam Imajinasi

Prof. Uceng itu mengakui, kondisi demokrasi Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang membutuhkan solusi konkret.

Presiden Prabowo Subianto (tengah) menyampaikan paparan di depan siswa dan orang tuanya saat melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026). Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kekayaan negara harus dijaga untuk memastikan masyarakat dapat hidup dengan layak dan sejahtera, salah satunya lewat jalur pendidikan. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Presiden Prabowo Subianto (tengah) menyampaikan paparan di depan siswa dan orang tuanya saat melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026). Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kekayaan negara harus dijaga untuk memastikan masyarakat dapat hidup dengan layak dan sejahtera, salah satunya lewat jalur pendidikan. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Madah (UGM) Prof. Zainal Arifin Mochtar, meminta Presiden Prabowo Subianto lebih fokus pada upaya memperbaiki kualitas demokrasi, daripada terus menyampaikan pandangan normatif dalam pidato-pidatonya. 

Menurut lelaki yang akrab disapa Uceng itu, kondisi demokrasi Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang membutuhkan solusi konkret.

Ia menilai narasi mengenai demokrasi yang terus disampaikan Presiden sebaiknya disertai dengan penyampaian terhadap kondisi nyata yang sedang dihadapi bangsa. 

Iklan

Harapan saya untuk Presiden itu sendiri, tidak melanjutkan imajinasinya sendiri soal demokrasi Indonesia,”

kata Uceng dałam diskusi bertajuk Prospek Demokrasi Elektoral 2029: Telaah atas Revisi Undang-Undang (RUU), Selasa, 7 Juli 2026.

Semakin sering Presiden berbicara mengenai demokrasi tanpa diikuti pengakuan terhadap persoalan yang ada, sambungnya, semakin besar risiko munculnya kesenjangan antara narasi dan realitas.

Semakin banyak Presiden Prabowo melanjutkan imajinasinya soal demokrasi Indonesia dengan berbagai pidatonya yang panjang itu, saya rasa demokrasi Indonesia memang akan makin suram, makin berlatar buram,”

ucapnya.

Harus Ada Masukan Jujur untuk Presiden

Uceng juga berharap, ada pihak di lingkungan Presiden yang berani memberikan masukan secara jujur mengenai kondisi demokrasi saat ini. 

Ia menilai, pemimpin membutuhkan pandangan yang objektif agar kebijakan yang diambil sesuai dengan realitas.

Kalau perlu, saya berharap tetap ada orang di lingkaran Presiden yang mau berbisik, mau bercerita dengan baik,”

harapnya.

Menurutnya, pembahasan mengenai standar demokrasi atau kualitas elektoral tidak perlu menjadi fokus utama apabila persoalan mendasar yang dihadapi demokrasi Indonesia belum terselesaikan.

Tidak usah disampaikan soal standar demokrasi atau standar elektoral sampai sejauh itu,”

jelasnya.

Ia menegaskan, yang lebih penting saat ini adalah kesadaran bahwa demokrasi Indonesia sedang menghadapi tantangan serius sehingga diperlukan langkah luar biasa untuk memperbaikinya.

Yang paling penting adalah memahami realitas sesungguhnya, menyadari bahwa kita sedang mengalami masalah dan membutuhkan upaya ekstra untuk keluar dari masalah itu,”

ucap Uceng.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal