Psikolog Meity Arianty meminta pihak sekolah bertindak cepat menangani perundungan (bullying) sebelum berdampak fatal. Pernyataan ini merespons kasus dugaan bom rakitan yang melibatkan seorang siswa MAN 3 Padang akibat menjadi korban perundungan.
Dia berpendapat sekolah tidak boleh menyelesaikan kasus perundungan secara setengah hati atau bahkan menutupi demi menjaga nama baik lembaga. Setiap sekolah perlu menerapkan protokol penanganan toleransi nol perundungan (zero tolerance bullying) yang berorientasi pada perlindungan anak.
“Sekolah wajib bertindak tegas melalui protokol penanganan zero tolerance yang berperspektif perlindungan anak, bukan malah menutupi kasus demi menjaga reputasi lembaga. Ini sering terjadi, akhirnya seperti lingkaran setan,”
kata Meity kepada Owrite, dikutip pada Jumat, 31 Juli 2026.
Penanganan tidak cukup hanya dengan menghentikan perundungan. Pihak sekolah juga perlu memberikan sanksi edukatif kepada pelaku, menyediakan ruang aman bagi korban, serta menghadirkan pendampingan secara tertutup melalui psikolog atau guru bimbingan dan konseling (BK) agar korban tidak mengalami intimidasi lanjutan.






