Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian pada inovasi genteng biomassa hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terbuat dari sabut kelapa. Genteng tersebut dinilai memiliki daya tahan tinggi, berbobot ringan, dan berpotensi menjadi alternatif pengganti atap seng.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengatakan Prabowo bahkan menguji langsung kekuatan genteng tersebut saat bertemu dengan sekitar 150 peneliti BRIN di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
“Hal yang paling di-highlight oleh Presiden Prabowo adalah hasil inovasi dari BRIN, genteng dari sabut kelapa yang daya tahannya luar biasa, biayanya murah, ringan, tapi dibanting-banting, diinjak-injak itu enggak pecah. Daya tahan bagus. Itu bisa menjadi inovasi ke depan,”
kata Hasan usai pertemuan, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
Siap Digunakan?
Hasan mengatakan Prabowo berharap penggunaan atap seng di rumah-rumah dapat secara bertahap digantikan dengan material yang lebih baik. Genteng biomassa hasil riset BRIN dianggap dapat menjadi salah satu solusi yang siap diterapkan.
“Untuk rumah-rumah, Presiden ingin ganti seng? Seng karena itu selain enggak sehat, juga dari sisi keindahan itu sangat tidak indah. Jadi, kalau diganti dengan genteng yang berasal dari sabut kelapa, itu luar biasa sekali. Itu yang di-highlight beberapa kali oleh Presiden. Ini bisa segera diimplementasikan,”
ujar dia.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menguji langsung kekuatan sejumlah prototipe genteng biomassa berbahan serabut kelapa, sekam padi, anyaman bambu, hingga ampas tebu. Eks menteri pertahanan itu membanting dan menginjak genteng guna mengetes ketahanan.
Prabowo juga menanyakan biaya pemasangan genteng untuk rumah tipe 36 sebagai bagian dari gagasan program “gentengnisasi”. Peneliti BRIN menjelaskan biaya pemasangan diperkirakan berkisar Rp11 juta hingga Rp12 juta per rumah tipe 36.
Jangan Seng
Saat meresmikan renovasi bangunan cagar budaya Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, pada 30 Juli 2026, Prabowo menyampaikan keinginannya mengurangi penggunaan atap seng.
Menurutnya, selain kurang menarik secara estetika, seng juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan apabila mengalami korosi.
“Seng ini cepat berkarat, karat ini tidak baik untuk kesehatan. Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa disadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru padahal dia enggak merokok. Dari mana? Ya, dari karat, dari asbes, dari macam-macam kimiawi,”
ujar Prabowo.
Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali penggunaan genteng sebagai bagian dari identitas arsitektur rumah di Indonesia melalui program yang disebutnya sebagai “gentengnisasi”.


























