Tiga hari setelah gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), aktivitas kegempaan masih terus terjadi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.576 gempa susulan terjadi hingga Senin, 17 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan dari ribuan gempa susulan tersebut, terdapat dua kejadian dengan magnitudo 6,0 atau lebih.
Total Gempa Susulan 1.576 kali kejadian,”
kata Berton saat konferensi pers perkembangan penanganan gempa NTT, Senin, 17 Agustus 2026.
Berton merinci, dua gempa susulan tercatat memiliki magnitudo 6,0 atau lebih, dengan salah satunya mencapai magnitudo 6,2. Selain itu, sekitar 300 gempa lainnya dirasakan oleh masyarakat.
Sementara lebih dari 1.500 gempa tercatat tidak dirasakan. Data kegempaan tersebut, kata Berton, masih akan terus diperbarui seiring perkembangan kondisi di lapangan.
Data-data ini akan tetap kami update nantinya,”
ujarnya.
Tingginya aktivitas gempa susulan terjadi ketika proses penanganan dampak gempa utama masih berlangsung. BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang mengalami luka-luka di sejumlah wilayah terdampak.
Korban meninggal terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai dengan 26 jiwa dan Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 24 jiwa.
Selanjutnya Nagekeo delapan jiwa, Sikka empat jiwa, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing dua jiwa.
BNPB juga masih memantau kemungkinan adanya perubahan jumlah korban. Meski hingga 17 Agustus tidak ada lagi laporan warga yang hilang, tim gabungan Basarnas tetap melakukan pencarian di tujuh kabupaten terdampak.
Meskipun tidak ada laporan, tim gabungan Basarnas tetap melakukan upaya-upaya pencarian dan tetap menurunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak,”
kata Berton.
Di sisi lain, proses pemulihan infrastruktur mulai menunjukkan perkembangan. Akses jalan di NTT secara umum sudah dapat dilalui, meski masih terbatas.




















