Dalam amanat upacara HUT ke-81 RI di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 17 Agustus 2026, Ketua KPK Setyo Budiyanto menginstruksikan jajarannya menggalang donasi untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami usahakan bisa membantu semaksimal mungkin dengan bantuan pengumpulan donasi,”
ucap Setyo.
Setyo menyebut donasi bisa berupa barang atau kebutuhan lain yang bakal dikirim ke lokasi-lokasi yang terdampak gempa.
Dalam kesempatan itu, ia turut mengajak jajarannya untuk mengheningkan cipta sejenak seraya mendoakan korban bencana agar diberikan kekuatan dan ketabahan jelang momentum hari kemerdekaan Indonesia.
Korban
Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu, 16 Agustus 2026, korban meninggal mencapai 53 orang dengan rincian 25 orang dari Kabupaten Manggarai, 20 orang Manggarai Timur, empat orang di Sikka, satu orang di Manggarai Barat, satu orang di Nagekeo, dan dua orang di Ende.
Selain korban meninggal, petugas gabungan juga mengevakuasi dan merawat para korban luka. Total korban luka-luka mencapai 137 jiwa. Saat ini, korban luka sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun faskes darurat.
Sementara, merujuk data sementara 1.543 rumah rusak berat, 328 rumah rusak sedang, da 532 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas 87 unit tempat pendidikan, 50 unit tempat ibadah, 76 unit kantor pemerintahan, dan sejumlah fasilitas umum.
Permulaan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tektonik M7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT atau 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.
Masyarakat merasakan dampak guncangan gempa tersebut dalam beberapa tingkat skala intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala V MMI (membangunkan banyak orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk): berdampak pada masyarakat di Kota Ende, Kota Borong, serta Kota Ruteng dan Skala VI MMI (mengejutkan semua penduduk hingga berlari keluar): berdampak pada masyarakat di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa.


























