Wacana Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan pengenalan atau pembelajaran bahasa asing sejak kelas 1 sekolah dasar (SD) mendapat tanggapan dari kalangan guru.
Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi langkah positif selama pembelajarannya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Guru bahasa Inggris, Syafaqoh Khoirotul Husna, menilai pengenalan bahasa asing sejak kelas 1 SD bukan hal yang terlalu memaksakan perkembangan anak.
Menurutnya, pengenalan bahasa asing justru dapat membantu siswa memiliki dasar sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Kalau hanya sekadar pengenalan pembelajaran bahasa asing yang dimulai dari kelas 1 SD, saya rasa itu adalah salah satu langkah yang cukup baik dan tepat,”
kata Syafaqoh kepada Owrite, Rabu 19 Agustus 2026.
Ia mengatakan, pandangan tersebut salah satunya didasarkan pada pengalamannya mengajar siswa kelas 7. Dari proses need analysis terhadap siswa yang baru masuk SMP, masih ditemukan siswa yang memiliki pengetahuan dasar bahasa Inggris yang minim.
Kondisi tersebut, kata dia, terjadi salah satunya karena sejumlah SD negeri tidak lagi menerapkan pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.
Akibatnya, guru di tingkat SMP harus membangun kembali pengetahuan dasar bahasa Inggris siswa, sementara di jenjang tersebut sudah terdapat target capaian pembelajaran yang harus dipenuhi.
Syafaqoh menilai pengenalan sejak dini juga dapat membuat siswa lebih mudah mengembangkan kemampuan bahasa asing.
Siswa setidaknya sudah mengenal pola dan struktur dasar bahasa yang dipelajari sehingga tidak terlalu kaget ketika kembali menemukan pelajaran bahasa asing di jenjang SMP.
Ketika di masa SD murid sudah memiliki pengalaman pengetahuan bahasa asing, mereka tidak akan terlalu kaget ketika menemui pembelajaran bahasa asing di jenjang SMP,”
ujarnya.
Tak Harus Jadi Beban
Menurut Syafaqoh, pembelajaran bahasa asing untuk siswa kelas 1 SD tidak harus diberikan dalam bentuk materi yang kompleks.
Karena sifatnya masih pengenalan, sekolah dapat membangun kebiasaan sederhana melalui lingkungan belajar.
Misalnya, siswa dikenalkan dengan sapaan dalam bahasa asing, nama-nama benda di sekitar kelas, atau diberikan stimulus melalui stiker yang mencantumkan nama benda dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Sekolah juga dapat membuat hari khusus penggunaan bahasa asing atau memberikan stimulus dan respons sederhana yang sesuai dengan usia anak.
Materi yang diajarkan hanya ‘pengenalan’ yang sifatnya mengenalkan. Bisa dalam bentuk membuat lingkungan terbiasa dengan bahasa asing atau dengan memberikan stimulus-stimulus,”
jelasnya.
Hal senada disampaikan Guru bahasa Indonesia, Hesti Sulistiyorini. Ia menilai pengenalan bahasa asing sejak kelas 1 SD sudah tepat, terutama jika pelaksanaannya tetap menempatkan bahasa Indonesia sebagai fondasi utama.
Menurut Hesti, penguasaan bahasa asing penting untuk menghadapi hubungan internasional dan tantangan global. Namun, pembelajaran pada siswa kelas 1 SD harus dikemas secara menyenangkan agar menjadi pembiasaan, bukan justru menambah beban belajar.
Pembelajaran di kelas 1 SD harus disesuaikan dan dibuat menyenangkan sehingga menjadi pembiasaan baik dan tidak menjadi beban, tentu saja dengan tetap mengutamakan bahasa Indonesia sebagai fondasi bahasa utama bagi siswa,”
kata Hesti.
Ia menyebut sejumlah manfaat yang dapat diperoleh siswa, mulai dari bertambahnya kemampuan bahasa, meningkatnya kepercayaan diri dalam berkomunikasi, hingga bertambahnya wawasan mengenai budaya negara lain melalui musik, cerita, maupun film.
Selain itu, pengenalan bahasa asing sejak usia dini dinilai dapat membantu anak beradaptasi dengan tantangan global yang mungkin mereka hadapi pada masa mendatang.
Pembelajaran yang Sesuai
Hesti mengingatkan agar penerapan kebijakan tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru, terutama jika bahasa asing yang dikenalkan bukan bahasa Inggris.
Menurutnya, bahasa Inggris relatif lebih siap diterapkan di tingkat SD karena sudah lama diperkenalkan di sejumlah sekolah. Namun, apabila pemerintah ingin memperluas pengenalan ke bahasa asing lainnya, diperlukan kajian mengenai kompetensi guru, metode pembelajaran, serta sarana pendukung.
Untuk bahasa asing selain bahasa Inggris perlu pengkajian mendalam dan matang terkait dengan implementasinya di sekolah, ketersediaan guru, metode, dan sarana pendukung karena apabila tidak matang, capaian akhir dari pembelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal,”
kata Hesti.
Ia juga menilai harus ada capaian pembelajaran yang disesuaikan dengan fase perkembangan siswa SD. Materi sebaiknya lebih banyak berisi pengenalan, budaya, komunikasi sederhana, dan aktivitas menyenangkan daripada pembelajaran yang terlalu menekankan teori.
Syafaqoh pun berpandangan bahwa pendidikan bahasa tidak hanya berlangsung di sekolah. Menurutnya, keberhasilan pembelajaran juga dipengaruhi oleh pembiasaan di rumah dan lingkungan sekitar.
Karena pendidikan bukan hanya di sekolah, pendidikan ada pada tiga lingkup: sekolah, rumah dan lingkungan,”
tandasnya.
























