Belakangan ini lagi ramai pembahasan mengenai buku Islam Ala Prabowo. Banyak pihak menganggap buku seperti itu termasuk hal yang baru.

Padahal, kalau kita menengok kembali rak-rak buku tentang politik Indonesia, pembahasan semacam ini ternyata bukan hal baru.

Jauh sebelum era Prabowo, pemikiran tentang Islam, negara, dan kepemimpinan presiden sudah banyak dituangkan dalam berbagai buku.

Menariknya, setiap presiden punya cerita dan sudut pandang yang berbeda. Ada yang membahas pembaruan pemikiran Islam, hubungan agama dengan negara, pendidikan, demokrasi, hingga bagaimana nilai agama diwujudkan lewat tindakan.

Lantas, buku apa saja yang bisa dibaca untuk melihat perjalanan pemikiran tersebut?

  1. Islam Sontoloyo (Soekarno)

Nama Soekarno tentu tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai hubungan Islam dan politik Indonesia.

Salah satu karya yang menarik untuk dibaca adalah Islam Sontoloyo. Berdasarkan catatan katalog Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, buku ini diterbitkan kembali oleh BASABASI pada 2017.

Lewat buku tersebut, Soekarno menyampaikan kritik terhadap cara beragama yang dianggap terlalu kaku dan hanya terpaku pada persoalan fikih.

Gagasan yang dibawa Soekarno cukup menarik untuk melihat bagaimana dirinya mendorong umat Islam agar tidak berhenti pada ritual dan aturan formal, tetapi juga mengambil semangat Islam untuk menghadapi perubahan zaman.

  1. Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno (Syamsul Kurniawan)

Masih dari era Soekarno, ada buku Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno karya Syamsul Kurniawan.

Mengacu pada data publikasi CV Tirta Buana Media, buku yang diterbitkan Madani pada 2017 ini membahas gagasan pendidikan Soekarno sejak awal abad ke-20.

Isinya antara lain membahas kebebasan intelektual, demokratisasi pendidikan, hingga akses pendidikan bagi perempuan. Buku ini juga menarik karena memperlihatkan bagaimana pemikiran keislaman Soekarno bertemu dengan gagasan kebangsaan dan pendidikan.

  1. Habibie, Soeharto, dan Islam (Adian Husaini)

Beranjak ke masa Orde Baru, ada buku Habibie, Soeharto, dan Islam karya Adian Husaini.

Berdasarkan arsip Library of ABN, buku yang terbit pada 1995 ini membahas situasi politik menjelang berakhirnya Orde Baru, termasuk kiprah B.J. Habibie dan hubungannya dengan Presiden Soeharto.

Salah satu hal yang dibahas adalah kemunculan ICMI atau Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Buku ini bisa menjadi gambaran bagaimana isu Islam tidak hanya berada di ruang keagamaan, tetapi juga bersinggungan dengan strategi dan dinamika politik pada masa itu.

  1. Islam, Negara, dan Demokrasi (Abdurrahman Wahid)

Kalau membicarakan Islam dan politik Indonesia, pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga menarik untuk ditelusuri.

Seperti yang dirangkum dalam BPMB Kalimantan Selatan, buku Islam, Negara, dan Demokrasi ini memperlihatkan bagaimana Gus Dur melihat Islam sebagai agama yang memiliki semangat perbaikan atau dinul islah.

Menurut pemikiran yang dibahas dalam buku tersebut, nilai-nilai Islam dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kesetaraan, kebebasan, hak asasi manusia, dan persamaan warga negara di hadapan hukum.

Jadi, pembahasannya bukan sekadar soal bagaimana negara harus terlihat Islami, tetapi bagaimana nilai Islam bisa hadir dalam kehidupan bernegara.

  1. Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Abdurrahman Wahid)

Masih dari Gus Dur, ada buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang merupakan kumpulan tulisan yang diterbitkan The Wahid Institute pada 2006.

Berdasarkan deskripsi buku di Google Books, kumpulan esai ini banyak berbicara mengenai pembelaan terhadap orang-orang yang menjadi korban ketertindasan.

Gus Dur tidak melihat siapa yang harus dibela berdasarkan agama atau latar belakang etnisnya. Bagi Gus Dur, manusia yang mengalami ketidakadilan tetap harus mendapatkan pembelaan. Pemikiran seperti ini menjadi salah satu bagian menarik untuk memahami cara Gus Dur memandang hubungan Islam, kemanusiaan, dan kehidupan berbangsa.

  1. Hj. Megawati Soekarnoputri dan Islam

Bagaimana dengan Megawati?

Literatur yang membahas Megawati Soekarnoputri dan Islam umumnya menyoroti hubungan antara warisan pemikiran Soekarno, nasionalisme, dan tradisi Islam kultural di Indonesia.

Pembahasannya juga kerap dikaitkan dengan hubungan Megawati dan organisasi-organisasi Islam, termasuk Nahdlatul Ulama.

Dari sini terlihat bahwa relasi antara presiden dan Islam tidak selalu berbicara soal kebijakan agama secara langsung. Hubungan politik dengan kelompok dan organisasi keagamaan juga menjadi bagian dari dinamika tersebut.

  1. Jalinan Keislaman, Keutamaan, dan Kebangsaan (SBY)

Masuk ke era Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, tema Islam dan kepemimpinan kembali muncul dengan warna yang berbeda.

Pilihan EditorAni Ratnasari

Buku Islam Ala Prabowo Viral Lagi, Judulnya Bikin Warganet Riuh

Sejumlah literatur mengenai SBY, termasuk Jalinan Keislaman, Keutamaan, dan Kebangsaan serta karya bertema Membumikan Islam, membahas bagaimana nilai keislaman ditempatkan dalam konteks kehidupan berbangsa.

Salah satu tema yang menonjol adalah moderasi beragama atau wasathiyyah. Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan demokrasi, kehidupan sosial, hingga peran Indonesia di tingkat internasional.

  1. Jokowi Beragama Dalam Tindakan (Kastoyo Ramelan)

Kalau pembahasan sebelumnya banyak berkutat pada gagasan dan politik, buku Jokowi Beragama Dalam Tindakan karya Kastoyo Ramelan menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Berdasarkan katalog Perpustakaan Cendekia, buku yang diterbitkan oleh Imania/ER.Asura pada 2014 ini membahas sisi keberagamaan Joko Widodo melalui tindakan.

Artinya, kesalehan tidak hanya dilihat dari ucapan atau jargon politik, tetapi juga dari etos kerja, pelayanan publik, dan tindakan seorang pemimpin.

  1. Islam Ala Prabowo

Nah, yang terbaru ada Islam Ala Prabowo karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.

Mengacu pada ulasan Atmosphere Publishing House, buku ini menghimpun berbagai pandangan mengenai pendekatan keagamaan Prabowo Subianto.

Pembahasannya mengaitkan Islam dengan sejumlah gagasan yang melekat pada kepemimpinan Prabowo, seperti patriotisme, nasionalisme, kedaulatan, dan kesejahteraan sosial.

Pada akhirnya, “Islam Ala Prabowo” bukan sekadar soal bagaimana seorang presiden menjalankan keyakinannya. Ini juga soal bagaimana agama dibaca, dikemas, dan dipertemukan dengan kekuasaan.

Sejarah menunjukkan, hampir setiap era kepresidenan punya “versi Islam” masing-masing. Soekarno dengan kritik dan pembaharuan pemikirannya, Gus Dur dengan Islam kemanusiaan, SBY dengan moderasi, Jokowi dengan agama dalam tindakan, dan kini Prabowo dengan narasi Islam yang dikaitkan dengan patriotisme serta nasionalisme.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih menarik yakni, apakah politik yang menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Islam, atau justru narasi Islam yang perlahan menyesuaikan diri dengan kepentingan politik kekuasaan?

Jawabannya tentu tidak sesederhana hitam dan putih. Namun satu hal jelas, ketika Islam dan kekuasaan bertemu, yang dipertarungkan bukan cuma suara di bilik pemilu, tetapi juga siapa yang berhak mendefinisikan wajah Islam di ruang publik.

Dan sejarah buku-buku ini menunjukkan bahwa perdebatan itu ternyata sudah berlangsung jauh sebelum istilah “Islam Ala Prabowo” muncul.