Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

DPR Sentil Skema 200 Juta Rekening Bansos: Potensi Data Ganda dan Salah Sasaran

Berdasarkan data, jumlah masyarakat usia produktif di Indonesia yang belum memiliki rekening per tahun 2026 sekitar 15,3 juta jiwa.

DPR RI menyoroti rencana pemerintah membuka hingga 200 juta rekening baru untuk memperkuat penyaluran bantuan sosial (bansos). Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin mempertanyakan dasar penetapan target tersebut karena jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening jauh lebih kecil. Azis menilai program pembukaan rekening secara massal perlu dikaji ulang agar anggaran yang disiapkan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan penerima bansos, bukan sekadar mengejar jumlah rekening yang dibuka. “Jangan sampai kita sibuk membuka rekening sebanyak-banyaknya, sementara persoalan siapa yang berhak menerima bansos belum selesai,” tegas Azis di Jakarta, Selasa, 15 September 2026. Sorotan itu muncul setelah pemerintah menyiapkan anggaran Rp11 triliun melalui bank-bank Himbara untuk mendukung pembukaan rekening secara massal. Azis kemudian membandingkan target tersebut dengan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Berdasarkan data yang dia soroti, jumlah masyarakat usia produktif di Indonesia yang belum memiliki rekening pada 2026 hanya sekitar 15,3 juta jiwa. Angka itu terpaut sangat jauh dengan target pembukaan 200 juta rekening baru. Karena itu, Azis meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka siapa yang menjadi sasaran program tersebut dan apa dasar perhitungannya. “Pemerintah berkewajiban meyakinkan publik dan menjelaskan secara transparan apa urgensi dari target 200 juta rekening ini, serta siapa sebenarnya sasaran spesifik dari sisa kuota yang begitu besar,” tegas Azis. Menurut politikus Fraksi PDI Perjuangan itu, percepatan penyaluran bansos melalui perbankan pada dasarnya penting. Namun, skala program harus disesuaikan dengan kebutuhan riil penerima manfaat di lapangan. Dia mengingatkan pembukaan rekening baru secara besar-besaran juga berpotensi menimbulkan persoalan lain apabila rekening dibuat untuk warga yang sebenarnya sudah memiliki rekening perbankan. Kondisi tersebut, kata Azis, dapat memunculkan rekening ganda atau duplikasi yang pada akhirnya justru menambah jumlah rekening pasif atau dormant. “Jangan sampai anggaran besar justru habis untuk program administratif yang tidak efektif,” pungkasnya. Karena itu, Azis mendesak pemerintah membuka dasar perhitungan target 200 juta rekening sekaligus merinci penggunaan anggaran Rp11 triliun. Menurut dia, pemerintah perlu melakukan evaluasi cost-benefit sebelum program dijalankan dalam skala besar. “Pemerintah harus memastikan target pembukaan rekening ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil penerima bansos agar tidak terjadi pemborosan anggaran akibat rekening ganda,” kata Azis. Azis menilai persoalan yang lebih mendesak justru berada pada kualitas data penerima bansos. Pemerintah perlu memastikan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), validitas NIK, pemutakhiran data, dan integrasi antar-lembaga berjalan dengan baik agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang berhak. “Fokus utama dan prioritas alokasi anggaran seharusnya tetap dicurahkan pada peningkatan kualitas Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), validitas NIK, pemutakhiran data, serta integrasi antar-lembaga demi menjamin ketepatan sasaran bansos,” pungkasnya. Petugas melakukan perekaman data saat penyaluran bantuan pangan beras di Kelurahan Burengan, Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).
Petugas melakukan perekaman data saat penyaluran bantuan pangan beras di Kelurahan Burengan, Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/nz)

Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin mempertanyakan dasar penetapan rencana pemerintah membuka 200 juta rekening baru demi memperkuat penyaluran bantuan sosial (bansos). Sebab jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening jauh lebih kecil.

Azis menilai program pembukaan rekening secara massal perlu dikaji ulang agar anggaran yang disiapkan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan penerima bansos, bukan sekadar mengejar jumlah pembukaan rekening.

“Jangan sampai (pemerintah) sibuk membuka rekening sebanyak-banyaknya, sementara persoalan siapa yang berhak menerima bansos belum selesai,”

kata Azis di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Sorotan itu muncul setelah pemerintah menyiapkan anggaran Rp11 triliun melalui bank-bank Himbara untuk mendukung pembukaan rekening massal.

Iklan

Akurasi Data

Azis kemudian membandingkan target tersebut dengan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Berdasarkan data yang dia sorot, jumlah usia produktif di Indonesia yang belum memiliki rekening per tahun 2026 sekitar 15,3 juta jiwa.

Angka itu terpaut sangat jauh dengan target pembukaan 200 juta rekening baru. Maka, Azis meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka siapa yang menjadi sasaran program tersebut dan dasar perhitungan.

“Pemerintah berkewajiban meyakinkan publik dan menjelaskan secara transparan apa urgensi dari target 200 juta rekening ini, serta siapa sebenarnya sasaran spesifik dari sisa kuota yang begitu besar,”

ucap Azis.

Menurut politikus Fraksi PDI Perjuangan itu, percepatan penyaluran bansos melalui perbankan merupakan hal penting. Namun, skala program harus disesuaikan dengan kebutuhan riil penerima manfaat di lapangan.

Dia mengingatkan pembukaan rekening baru secara besar-besaran juga berpotensi menimbulkan persoalan lain apabila rekening dibuat untuk warga yang sebenarnya sudah memiliki rekening bank.

Kondisi tersebut, kata Azis, dapat memunculkan rekening ganda atau duplikasi yang justru menambah jumlah rekening pasif atau dormant.

“Jangan sampai anggaran besar justru habis untuk program administratif yang tidak efektif,”

ujar dia.

Rinci

Azis mendesak pemerintah membuka dasar perhitungan target sekaligus merinci penggunaan anggaran Rp11 triliun. Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi cost-benefit sebelum menjalankan program.

“Pemerintah harus memastikan target pembukaan rekening ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil penerima bansos agar tidak terjadi pemborosan anggaran akibat rekening ganda,”

kata Azis.

Dia menilai persoalan yang lebih mendesak justru berada pada kualitas data penerima bansos. Pemerintah perlu memastikan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), validitas NIK, pemutakhiran data, dan integrasi antar-lembaga berjalan dengan baik bansos tepat sasaran.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.