Amnesty International Indonesia menyoroti dugaan persoalan alat keselamatan dalam tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Kesaksian sejumlah korban selamat terkait alarm darurat dan ketersediaan pelampung dinilai perlu menjadi bagian penting dalam investigasi.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, korban selamat mengungkap tidak terdengarnya alarm darurat ketika kapal terbalik pada tengah malam. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat penumpang yang sedang tidur tidak sempat menyelamatkan diri.

Kesaksian korban yang selamat kepada media mengungkap tidak adanya bunyi alarm darurat saat kapal terbalik di tengah malam ketika banyak penumpang sedang tidur,”

kata Usman dalam keterangan resmi, Selasa 15 September 2026.

Kegagalan instrumen keselamatan dasar ini diduga menyebabkan banyak penumpang, khususnya kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, terperangkap dalam kamar dan tidak sempat menyelamatkan diri, ujarnya.

Selain alarm, ketersediaan pelampung juga menjadi sorotan. Amnesty meminta kesaksian korban mengenai perlengkapan keselamatan tersebut ditindaklanjuti oleh penegak hukum.

Ketersediaan pelampung di kapal juga menjadi sorotan saat korban selamat mengatakan tidak menemukan pelampung di sekitarnya dan juga banyak penumpang di atas sekoci yang tidak mengenakan pelampung. Keterangan korban selamat ini adalah informasi penting yang wajib ditindaklanjuti oleh penegak hukum,”

ujarnya.

Menurut Usman, dugaan persoalan pada perangkat keselamatan kapal tidak bisa dipisahkan dari kewajiban memastikan pengguna transportasi laut memperoleh layanan yang aman dan layak.

Bagi kami, kelalaian dalam memastikan fungsi alat keselamatan termasuk alarm darurat dan ketersediaan pelampung, kelaikan kapal, dan peringatan cuaca merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak mendapat pelayanan yang aman dan layak dalam menggunakan transportasi publik yang tentunya berkaitan erat dengan hak hidup pengguna layanan transportasi publik,”

urainya.

Investigasi Menyeluruh

Amnesty pun mendorong investigasi menyeluruh untuk memastikan KMP Virgo Transport telah memiliki dan menjalankan standar mitigasi serta prosedur kedaruratan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Tragedi tersebut terjadi pada Minggu 13 September 2026 dini hari. KMP Virgo Transport 8 tercatat membawa 243 penumpang dan awak saat terbalik di perairan Masalembo setelah menghadapi cuaca buruk.

Hingga Selasa, sebanyak 114 korban telah ditemukan, dengan enam orang di antaranya meninggal dunia. Sebanyak 129 korban lainnya masih dalam pencarian.

Pada hari ketiga operasi SAR, Basarnas memperluas wilayah pencarian dari 2.600 mil laut menjadi 4.600 mil laut di perairan Masalembo.