Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni mengatakan jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menurun. 

Raja Juli menyebut, pemerintah belum dapat memprediksi apakah jumlah titik api akan kembali meningkat hingga masa El Nino berakhir.

Namun, berdasarkan pemantauan terakhir, trennya masih menunjukkan penurunan.

Saya tidak bisa memprediksi ya, namun perlu saya laporkan per hari ini, angkanya terus menurun ya. Dan ini angka yang sangat terbuka, transparan. Teman-teman bisa cek di SiPongi Kemenhut ya,”

kata Raja Juli, Rabu, 16 September 2026. 

Berdasarkan data hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang disampaikan Raja Juli, jumlah titik api sempat mengalami kenaikan sebelum kembali turun. 

Titik Api Turun

Pada 14 September tercatat 1.309 titik api, kemudian turun menjadi 968 titik pada 15 September. Di Kalimantan Barat, jumlah titik api turun cukup signifikan. Dari 221 titik api, jumlahnya disebut menjadi 51 titik api pada pemantauan terakhir.

Kalimantan Tengah juga mengalami penurunan, meski jumlahnya masih menjadi salah satu yang tertinggi. Titik api di wilayah tersebut turun dari 697 menjadi 226 titik.

Sementara itu, Kalimantan Selatan turun dari 112 menjadi 106 titik api. Sumatera Selatan juga mengalami penurunan dari 259 menjadi 200 titik api.

Mengalami Kenaikan

Jambi justru mengalami kenaikan dari 14 menjadi 18 titik api. Riau juga naik dari 5 menjadi 15 titik setelah sebelumnya selama empat hari tidak mencatat titik api.

Jadi konsentrasi utama kita tetap di Kalteng, Kalbar, dan Sumut/Sumsel-nya di Sumatra Selatan. Jadi sekali lagi, trennya terus menurun karena kerja keras teman-teman dari Manggala Agni Kemenhut, TNI-Polri, BPBD, masyarakat peduli api,”

ujar Raja Juli.

Namun, pemerintah masih menghadapi persoalan pembakaran lahan oleh masyarakat maupun korporasi. Raja Juli menyebut pembukaan lahan dengan cara membakar tetap terjadi meski kondisi cuaca sangat kering.

Namun kalau seandainya masyarakat tetap melakukan cara-cara lama, cara-cara ya bolehlah ‘primitif’ gitu ya, masih membakar membuka kebun dengan cara membakar—memang murah, tapi dampaknya sangat luar biasa,”

katanya.

Kawasan Konservasi

Terkait penanganan karhutla di kawasan konservasi, Raja Juli juga meluruskan soal penggunaan alat berat di taman nasional. Menurut dia, alat berat memang dibatasi dalam kondisi normal, tetapi dapat digunakan dalam keadaan darurat.

Namun melalui Inpres yang baru, ya Inpres yang baru yang ditandatangani Pak Presiden, dan kemudian kemarin saya juga membuat surat edaran kepada semua Gubernur, dalam keadaan berbahaya dan darurat terutama karhutla ini, maka alat berat dimungkinkan untuk dimasukkan ke Taman Nasional kita, misalkan untuk membuat sekat bakar, ya,”

jelasnya.

Penggunaan alat berat tetap harus mempertimbangkan kondisi lapangan dan dampaknya terhadap habitat satwa. Menurut Raja Juli, alat berat digunakan untuk kepentingan penyelamatan ketika kebakaran berpotensi menjalar lebih luas.

Namun tetap dijalankan dengan apa namanya keputusan yang tepat di lapangan, diukur level kedaruratannya, dan di tempat mana kemudian alat berat itu dapat di-deploy (dikerjakan) sehingga misalkan tidak mengganggu habitat orangutan, habitat satwa liar lainnya,”

pungkasnya.