Komisi XII DPR RI meminta pemerintah tidak lengah menjaga kebutuhan energi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa.
Pemulihan pascabencana dinilai tidak cukup hanya dengan bantuan darurat, tetapi harus memastikan listrik, BBM, hingga LPG tetap tersedia ketika masyarakat mulai kembali beraktivitas.
Ketua Komisi XII DPR RI Melchias Markus Mekeng mengatakan pasokan listrik di NTT saat ini masih mencukupi. Kapasitas suplai bahkan disebut masih berada di atas kebutuhan masyarakat.
Namun, kondisi jaringan setelah gempa tetap menjadi perhatian. Melchias berujar listrik menjadi kebutuhan penting bagi rumah tangga, sekolah, hingga aktivitas masyarakat sehingga pemulihan jaringan harus dipercepat.
“Suplai listrik di Provinsi NTT cukup. Jadi antara suplai dan kebutuhan masih ada lebih. Sekarang masalahnya pada saat gempa, listrik ini sangat diperlukan untuk rumah tangga, sekolah, dan kegiatan masyarakat. Kami minta agar segera diselesaikan,”
ujar Melchias di Pelabuhan Terminal Multipurpose Wae Kelambu, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, dikutip pada Sabtu, 19 September 2026.
Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengapresiasi kinerja PT PLN (Persero) yang dinilai mampu memulihkan dengan cepat setelah gangguan akibat gempa. Meski begitu, keberlanjutan pasokan listrik tetap diminta menjadi perhatian selama proses pemulihan.
Keberlanjutan
Parlemen juga meminta kebutuhan operasional PLN tetap tersedia. Melchias mengingatkan jangan sampai gangguan pasokan justru berujung pada pemadaman yang membuat masyarakat resah.
“Kami minta suplai bahan baku untuk PLN harus tetap dijaga supaya jangan ada mati lampu dan membuat warga resah. Jangan sampai kondisi itu menimbulkan berita yang tidak benar,”
kata dia.
Tak hanya listrik, Melchias meminta ketersediaan BBM juga dijaga. Menurutnya, kebutuhan BBM semakin penting ketika masyarakat mulai kembali beraktivitas setelah bencana.
“Ketersediaan BBM untuk Pertamina kita minta juga tetap harus dijaga. Karena biasanya yang agak berat adalah pascagempa, ketika masyarakat baru mulai lagi tetapi belum memiliki kemampuan,”
ujar dia.
Melchias juga menyoroti kebutuhan LPG subsidi ukuran 3 kilogram. Ia meminta Pertamina melalui anak perusahaannya memastikan ketersediaan LPG 3 kilogram bagi masyarakat NTT yang terdampak gempa.
Sebagian masyarakat kesulitan membeli LPG ukuran 12 kilogram karena harga lebih tinggi. Karena itu, ketersediaan LPG subsidi dinilai penting agar kebutuhan memasak masyarakat tetap bisa terpenuhi.
“Di sini ada (LPG) yang besar, 12 kilogram, mahal, rakyat tidak mampu. Harus disediakan gas melon 3 kilogram supaya rakyat mampu membeli,”
kata dia.
Jangan Berhenti
Melchias menegaskan perhatian terhadap korban gempa tidak boleh berhenti ketika masa tanggap darurat selesai. Justru setelah fase tersebut, masyarakat masih menghadapi persoalan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sebelum bencana.
“Bantuan saat gempa akan tetap berjalan. Sekarang yang harus dipikirkan adalah pascagempa. Biasanya setelah selesai, orang tidak lagi memikirkan. Padahal masyarakat masih membutuhkan bantuan,”
ujar dia.
Kerusakan rumah menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Melchias mengatakan warga yang rumahnya rusak belum tentu memiliki kemampuan finansial untuk membeli material dan membangun kembali tempat tinggal mereka.
“Rumah mereka rusak, mereka tidak punya kemampuan untuk bangun lagi. Beli semen, beli seng, dan segala macam itu tidak punya. Di situlah kami perlu bantuan,”
kata Melchias.






