Polri menegaskan identifikasi satu jenazah Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu I, Surakman, dapat dipertanggungjawabkan.

Jenazah Surakman pertama kali ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Berdasarkan hasil identifikasi, dipastikan hasil tes DNA merupakan satu dari delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda ketika hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Secara keahlian dari Biddokes Polri yang lakukan (pengecekan) DNA dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,”

ujar Kapolda Banten Irjen Hengki saat konferensi pers, Rabu, 23 September 2026.

Ia memastikan proses identifikasi jasad telah dilakukan secara profesional oleh ahli dalam bidangnya.

Pulang, Pak..

Rencananya, jenazah Surakman akan dibawa dari Bengkulu ke Banten dengan menggunakan pesawat, Kamis, 24 September.

“Jenazah akan dikirim diberangkatkan besok dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta. (Jenazah) akan diterima bersama gubernur, Basarnas tim terpadu, menyambut kedatangan jenazah di Bandara,”

ucap Hengki. 

Meski demikian, Hengki belum menjelaskan lebih detail kapan waktu pemulangan jenazah tersebut. Sebab, Polda Bengkulu masih mempersiapkannya.

Dengan ditemukannya jenazah Surakman, menyisakan tujuh orang hilang—terdiri dari lima jurnalis, satu nakhoda/kapten, dan satu guide—yang masih dicari oleh Tim SAR Bengkulu maupun Tim SAR Lampung.

Mereka yang masih hilang yakni:

  1. Warta, kapten kapal
  2. Heriyanto, guide
  3. M. Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara.
  4. Ari Basuki, jurnalis Merdeka.
  5. Yudhis, jurnalis iNews.
  6. Firman Daus, jurnalis Anadolu.
  7. Donal, jurnalis lepas.