Pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 dalam acara 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di hadapan Presiden Prabowo Subianto memunculkan tafsir bahwa Gontor sedang menyampaikan teguran kepada Presiden. 

Menanggapi hal itu, Ustadz Zaintun Ramsi mengingatkan publik agar tidak gegabah menarik kesimpulan karena pemilihan ayat Al-Qur’an dalam sebuah acara tidak otomatis ditujukan kepada orang tertentu.

Dan kalau saya, di Indonesia ini biasanya orang memilih ayat Al-Qur’an itu tidak dimaksudkan untuk siapa-siapa, biasanya begitu,”

kata Ustadz Zaitun Rams saat dihubungi Owrite, Senin, 28 September 2026.

Menurut Ustadz Zaintun, publik sebaiknya meminta penjelasan langsung kepada pihak Gontor mengenai maksud pemilihan ayat tersebut. 

Setelah itu, penjelasan dari pihak penyelenggara perlu dihormati dan tidak ditafsirkan secara berlebihan.

Jadi, ya tentu kalau kita bisa tanyakan kepada pihak Gontor, kita tanyakan kepada pihak Gontor dan kita harus terima penjelasan mereka. Kita harus agak baik,”

ucapnya.

Ustadz Zaintun menilai, kehadiran presiden dalam peringatan satu abad Gontor sebagai momentum penting. Kurang tepat jika rangkaian acara tersebut langsung ditafsirkan sebagai upaya sengaja menyampaikan teguran melalui bacaan Al-Qur’an.

Saya kira kita orang Indonesia ini ya, orang Indonesia sudah jauh-jauh presiden datang, itu kan sangat sesuatu banget, gitu. Saya pikir tidak mungkin Gontor mau secara sengaja dengan cara-cara seperti itu,”

jelasnya.

Dalam rangkaian Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor pada Sabtu, 19 September 2026, pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 memang tercatat dalam susunan acara. 

Setelah sambutan pimpinan Gontor, Presiden Prabowo juga menerima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku Gontor untuk Indonesia.

Spekulasi

Menegaskan sikapnya, Ustadz Zaintun memilih tidak berspekulasi lebih jauh mengenai maksud pemilihan ayat tersebut.

 Ia juga mengingatkan publik agar tidak semua hal dalam sebuah acara ditarik menjadi persoalan yang harus ditafsirkan.

Saya nggak bisa kasih komentar apa-apa. Saya nggak tahu, ya. Saya kira begini, lebih bagus jangan semua hal kita tanggapi, kalau kita mau tanggapi semuanya, kita jadi repot dan sibuk, ya,”

ungkapnya.

Menurut Ustadz Zaintun, tidak semua orang memahami konteks sebuah acara maupun maksud pemilihan bacaan Al-Qur’an. Karena itu, tafsir yang berkembang di tengah publik dinilai perlu disikapi secara proporsional.

Dan banyak orang-orang yang mungkin nggak tahu apa maksudnya,”

tutupnya.