Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Bayi 28 Hari Meninggal di Surabaya, DPR Sentil Pemkot: Ke Mana Peran Pemerintah?

Komisi IX DPR RI secara khusus mempertanyakan peran Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini (Foto: dpr.go.id)

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya bayi berusia 28 hari di Surabaya. Ia menilai kasus tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah, terutama dalam memastikan masyarakat memahami cara merawat bayi sejak awal kehidupan.

Menurut Yahya, peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas edukasi kesehatan kepada masyarakat. Terlebih, kasus itu terjadi di Surabaya, kota besar yang memiliki berbagai fasilitas kesehatan untuk menjangkau warga.

Pertama, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya bayi berusia 28 hari tersebut. Kedua, saya menyampaikan keprihatinan atas kasus tersebut karena ketidakpahaman warga masyarakat dalam memelihara bayi,”

kata Yahya di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.

Pemerintah Disorot

Yahya menilai, persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi pengetahuan orang tua dalam merawat anak. Menurutnya, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya perawatan bayi, termasuk menjaga kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak.

Iklan

Ketiga, ini menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah, khususnya untuk mendidik masyarakat agar mereka tahu memelihara bayi,”

ujarnya.

Yahya secara khusus mempertanyakan peran Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Ia menilai, keberadaan fasilitas kesehatan seharusnya dimanfaatkan untuk memastikan informasi mengenai perawatan bayi tersampaikan kepada keluarga, terutama orang tua yang baru memiliki anak.

Yang paling menyedihkan kasus tersebut terjadi di kota besar seperti Surabaya. Ke mana peran pemda selama ini dalam mengedukasi warga masyarakat?”

kata Yahya.
Ilustrasi bayi dalam gendongan.
Ilustrasi bayi dalam gendongan. (Pixabay/neelam279)

Fasilitas Belum Cukup

Menurut Yahya, Surabaya semestinya memiliki fasilitas kesehatan dasar yang memadai. Mulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu), pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), hingga puskesmas pembantu (pustu), seluruhnya dapat menjadi sarana untuk mendekatkan layanan dan edukasi kesehatan kepada warga.

Seharusnya Surabaya posyandunya sudah lengkap, puskesmasnya lengkap, pustunya juga lengkap,”

ujarnya.

Ia menegaskan, keberadaan fasilitas kesehatan perlu diiringi dengan edukasi yang efektif. Masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses ke layanan kesehatan, tetapi juga perlu memperoleh pemahaman mengenai kebutuhan bayi dan cara merawatnya dengan benar.

Masa Emas Anak

Yahya mengingatkan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode penting bagi pertumbuhan anak. Periode 1.000 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, menjadi salah satu fase krusial dalam mendukung tumbuh kembang dan mencegah stunting.

Keempat, usia bayi sampai dua tahun merupakan masa yang paling krusial bagi pertumbuhan manusia, karena 80 persen pertumbuhan otak manusia dibentuk pada 1.000 hari pertama kehidupan. Sembilan bulan dalam kandungan dan dua tahun di luar kandungan,”

kata Yahya.
Tenaga kesehatan merawat bayi yang baru dilahirkan bertepatan dengan HUT Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (17/8/2026).
Tenaga kesehatan merawat bayi yang baru dilahirkan bertepatan dengan HUT Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (17/8/2026). ( ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.)

Kemiskinan Jadi Sorotan

Selain edukasi pengasuhan, Yahya turut menyoroti persoalan kemiskinan yang dinilainya berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam merawat dan memenuhi kebutuhan anak.

Menurutnya, kondisi sosial ekonomi masyarakat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam menyediakan kebutuhan dasar anak, termasuk memastikan kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Kelima, adanya kasus semacam itu juga berkorelasi dengan masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Juga menunjukkan rendahnya pengetahuan warga masyarakat dalam memelihara bayi dan menjaga anak,”

ujarnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.