Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

BMKG Catat 478 Titik Panas: Sumsel Tertinggi, Ancaman Karhutla Belum Sirna

Rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan dmenjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi karhutla.

Warga berjalan menggendong anaknya saat terjadi kebakaran lahan di Desa Muara Baru, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (25/9/2026).
Warga berjalan menggendong anaknya saat terjadi kebakaran lahan di Desa Muara Baru, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (25/9/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hma)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Sumatra Selatan menempati posisi teratas dengan 189 titik panas.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 00.00–23.59 WIB, Jawa Timur menempati posisi kedua dengan 89 titik panas, disusul Papua Selatan dengan 63 titik. Kemudian, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat 26 titik panas.

Data tersebut menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai di sejumlah wilayah, meski sebaran asap karhutla mulai menjauh dari Jawa bagian barat.

Iklan

Gerak Asap

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, asap karhutla masih terpantau di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.

“Asap di wilayah-wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut,”

ujar Andri dalam keterangan tertulis yang diterima Owrite.id, Minggu, 18 Oktober.

BMKG memprakirakan kondisi relatif kering masih berlanjut pada 17–24 Oktober, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan. Rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi karhutla.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran, serta diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di lahan gambut, semak belukar, dan kawasan hutan.

“Apabila menemukan indikasi titik api, masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang,”

kata Andri.

Iklan