Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Feri Amsari Ibaratkan Kabinet Bak Liga Sepak Bola: Boros Jabatan dan Mubazir

Suatu peran kehilangan kekhususan apabila terlalu banyak orang ditempatkan dalam posisi yang sama tanpa pembagian fungsi yang jelas.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) memimpin pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Presiden Prabowo Subianto (kanan) memimpin pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sgd/tom)

Pakar hukum tata negara Feri Amsari mengkritik tata kelola pemerintahan yang terlalu gemuk, boros jabatan, dan tidak memiliki pembagian peran yang jelas. 

Dalam pembahasan mengenai posisi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan perdebatan seputar penasihat Presiden serta Wakil Presiden, ia menilai persoalan utama bukan soal penempatan jabatan, melainkan efektivitas struktur pemerintahan.

“Bukan tugas Anda, tetapi betapa berantakannya tata kelola pemerintahan (Indonesia),”

kata Feri kepada Owrite.id, Minggu, 18 Oktober 2026.

Feri kemudian menyinggung posisi Rocky Gerung dan Wakil Presiden dalam struktur yang menurutnya terlalu banyak memiliki jabatan dengan fungsi yang tidak jelas perbedaannya.

Iklan

“Jadi, Bang Rocky, Pak Wapres, Anda dalam satu sistem yang terlalu mubazir,”

ucap dia.

Apa Fungsi Mereka?

Perdebatan mengenai apakah seseorang menjadi penasihat Presiden atau penasihat Wakil Presiden tidak menyentuh persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan. Pembahasan seharusnya diarahkan pada kejelasan fungsi dan kebutuhan setiap jabatan.

“Jadi, kalau Anda berdebat bahwa saya bukan penasihat Wakil Presiden, tapi penasihat Presiden, maka problematikanya (ialah itu) bukan posisi Anda,”

ujar dia.

Feri juga menyoroti banyaknya posisi yang tidak memiliki kekhususan fungsi. Ia menggambarkan keputusannya meninggalkan posisi yang disebutnya sebagai “Watih Mepres” sebagai bentuk sikap terhadap struktur yang dianggap tidak efektif.

“Kalau saya sudah keluar jadi Watih Mepres. Terlalu banyak, enggak ada yang istimewa,”

aku dia.

Satu Tim

Untuk menjelaskan pandangannya, Feri menggunakan analogi sepak bola. Suatu peran kehilangan kekhususan apabila terlalu banyak orang ditempatkan dalam posisi yang sama tanpa pembagian fungsi yang jelas.

“Kalau sebuah pekerjaan terlalu besar, (maka itu) enggak khusus. Oh, pemain bola, ternyata seluruh orang Indonesia pemain bola, ngapain? Liga sama pula,”

kata dia.

Feri selanjutnya menyoroti kesetaraan level jabatan yang tidak otomatis menjelaskan perbedaan tugas dan kewenangan. Ia menyebut Rocky Gerung dan Raffi Ahmad sebagai perbandingan untuk menggambarkan kritik terhadap struktur tersebut.

“Sama dengan begini, semuanya adalah setingkat menteri. Tidak ada yang membedakan antara Bang Rocky dan Raffi Ahmad,”

tutur Feri.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.