“Jadi, Bang Rocky, Pak Wapres, Anda dalam satu sistem yang terlalu mubazir,”
ucap dia.
Apa Fungsi Mereka?
Perdebatan mengenai apakah seseorang menjadi penasihat Presiden atau penasihat Wakil Presiden tidak menyentuh persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan. Pembahasan seharusnya diarahkan pada kejelasan fungsi dan kebutuhan setiap jabatan.
“Jadi, kalau Anda berdebat bahwa saya bukan penasihat Wakil Presiden, tapi penasihat Presiden, maka problematikanya (ialah itu) bukan posisi Anda,”
ujar dia.
Feri juga menyoroti banyaknya posisi yang tidak memiliki kekhususan fungsi. Ia menggambarkan keputusannya meninggalkan posisi yang disebutnya sebagai “Watih Mepres” sebagai bentuk sikap terhadap struktur yang dianggap tidak efektif.
“Kalau saya sudah keluar jadi Watih Mepres. Terlalu banyak, enggak ada yang istimewa,”
aku dia.
Satu Tim
Untuk menjelaskan pandangannya, Feri menggunakan analogi sepak bola. Suatu peran kehilangan kekhususan apabila terlalu banyak orang ditempatkan dalam posisi yang sama tanpa pembagian fungsi yang jelas.
“Kalau sebuah pekerjaan terlalu besar, (maka itu) enggak khusus. Oh, pemain bola, ternyata seluruh orang Indonesia pemain bola, ngapain? Liga sama pula,”
kata dia.
Feri selanjutnya menyoroti kesetaraan level jabatan yang tidak otomatis menjelaskan perbedaan tugas dan kewenangan. Ia menyebut Rocky Gerung dan Raffi Ahmad sebagai perbandingan untuk menggambarkan kritik terhadap struktur tersebut.
“Sama dengan begini, semuanya adalah setingkat menteri. Tidak ada yang membedakan antara Bang Rocky dan Raffi Ahmad,”
tutur Feri.