Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

WMO Peringatkan Kabut Asap Indonesia Bisa Kepung Asia Tenggara Berbulan-bulan

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan, krisis kabut asap dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar)

Asia Tenggara menghadapi ancaman kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan, krisis kabut asap dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada perubahan arah angin dan turunnya hujan.

Direktur Kantor Regional Asia dan Pasifik WMO, Ben Churchill, mengatakan kondisi cuaca saat ini mendukung kebakaran untuk terus berlangsung dan meluas. Situasi ini diperburuk oleh fenomena El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat yang pernah diamati, bersamaan dengan musim kemarau di kawasan ASEAN.

Dalam wawancara dengan The Straits Times di kantor regional WMO di Tai Seng, Singapura, yang dikutip pada Senin, 19 Oktober 2026, Churchill menjelaskan bahwa kombinasi kondisi kering dan panas di wilayah khatulistiwa ASEAN berpotensi memperpanjang kebakaran. Praktik pembukaan lahan dengan cara tebas bakar juga menjadi salah satu faktor pemicu kebakaran hutan.

Iklan

Kami melihat semakin banyak hari dan jam dengan kualitas udara tidak sehat. Saya memperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut,”

kata Churchill.

Kabut Asap Hantui Singapura

Asap Karhutla memenuhi Singapura
Asap Karhutla memenuhi Singapura (Foto: channelnewsasia.com)

Dampak kabut asap turut dirasakan di Singapura. Negara tersebut mencatat 13 hari berturut-turut dengan Indeks Standar Polutan (Pollutant Standards Index/PSI) dalam kategori tidak sehat. Periode ini menjadi yang terpanjang tanpa jeda sejak krisis kabut asap pada 2015.

Kualitas udara dikategorikan tidak sehat apabila nilai PSI di salah satu wilayah Singapura melampaui 100 pada waktu tertentu dalam sehari.

Hingga 17 Oktober 2026, kondisi berkabut akibat asap masih berlangsung. Indeks PSI 24 jam berada dalam kategori tidak sehat, sementara konsentrasi partikel halus PM2.5 yang diukur setiap jam tercatat pada tingkat tinggi.

Aktivitas Olahraga Ikut Terganggu

Sejumlah warga berolahraga di atas Jembatan Ampera yang tertutup kabut asap saat pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (23/8/2026).
Sejumlah warga berolahraga di atas Jembatan Ampera yang tertutup kabut asap saat pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (23/8/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.)

Buruknya kualitas udara turut memengaruhi kegiatan olahraga luar ruangan di Singapura. Seluruh fasilitas olahraga luar ruangan dan fasilitas olahraga ActiveSG yang tidak dilengkapi pendingin udara kembali beroperasi pada 17 Oktober, setelah ditutup sementara sehari sebelumnya akibat memburuknya kabut asap.

Namun, The Kallang mengumumkan penghentian operasional Water Sports Centre mulai pukul 11.00 hingga pemberitahuan lebih lanjut akibat buruknya jarak pandang.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan operasional fasilitas publik.

Krisis Bisa Berbulan-bulan

Sebuah kapal melintas di perairan Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026).
Sebuah kapal melintas di perairan Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026). (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom)

WMO memperingatkan, pemulihan kualitas udara di kawasan Asia Tenggara masih bergantung pada perubahan kondisi cuaca, terutama turunnya hujan dan perubahan arah angin.

Selama kebakaran masih berlangsung dan kondisi kering bertahan, kabut asap berpotensi terus menyelimuti kawasan tersebut dan mengganggu aktivitas masyarakat lintas negara.

Ancaman ini menjadi semakin serius jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut, sementara kebakaran hutan dan lahan belum dapat dikendalikan.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.