Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan mengenai potensi El Niño yang dapat memperparah kekeringan di Indonesia sejak Maret 2026.
Pemanfaatan data sebaran titik panas perlu menjadi acuan untuk mendesain mitigasi bencana karhutla yang responsif, guna mencegah meluasnya titik api penyebab kebakaran sehingga lebih banyak nyawa dapat diselamatkan,”
ujar Made dalam keterangan tertulisnya Selasa 20 Oktober 2026.
Menurut Made, pemerintah perlu mengintegrasikan data titik panas yang tersedia melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) dengan data pemantauan kelembapan gambut.
Integrasi tersebut dapat membantu mengidentifikasi wilayah yang berisiko mengalami kebakaran dan menentukan prioritas pencegahan.
Pemetaan risiko juga harus diikuti kesiapan personel, ketersediaan peralatan pemadaman, serta kecepatan respons pemerintah daerah dan petugas di lapangan,”
jelasnya.
Selain mengandalkan teknologi pemantauan, TII mendorong pelibatan masyarakat dalam pengawasan aktivitas pembukaan lahan, pelaporan titik api, dan pemetaan wilayah rawan kebakaran.
Pelibatan tersebut perlu didukung pelatihan, peralatan, dan mekanisme pelaporan yang jelas.
Urgensi mitigasi terlihat dari luas karhutla Indonesia pada Januari-Juli 2026 yang mencapai 202.004,30 hektare.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan yang dikutip TII, angka itu meningkat 69 persen dibandingkan luas karhutla sepanjang 2025 sebesar 82.791,04 hektare.
Peringatan iklim, data titik panas, dan informasi kelembapan gambut perlu dihubungkan dengan kesiapan operasional agar pencegahan dapat dilakukan lebih dini, sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana yang berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat,”
tandasnya.