Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Usai Diperiksa 8 Jam di Polda Metro, 6 Aktivis Greenpeace Akhirnya Dipulangkan

Enam aktivis Greenpeace bebas usai sempat tertahan di Polda Metro Jaya setelah mengibarkan spanduk protes di puncak Patung Bundaran HI.

Aktivis Greenpeace saat panjat Patung Selamat Datang untuk bentangkan spanduk protes di Bundaran HI.
Aktivis Greenpeace saat panjat Patung Selamat Datang untuk bentangkan spanduk protes di Bundaran HI. (Foto: Greenpeace).

Enam aktivis Greenpeace bebas usai sempat tertahan di Polda Metro Jaya setelah mengibarkan spanduk protes di puncak Patung Bundaran HI.

Sudah (bebas) jam 20.30 WIB,”

ujar pengacara LBH Jakarta, Daniel Winarta, saat dikonfirmasi, Selasa, 20 Oktober 2026.

Enam aktivis Greenpeace tersebut sempat tertahan lebih dari delapan jam untuk dilakukan pendataan pasca mengibarkan spanduk protes krisis iklim dan beban biaya hidup.

Protes tersebut juga sebagai bentuk kritik dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran Rakabuming Raka.

Iklan

Daniel mengatakan, para aktivis hanya didata mengenai kronologi kejadian serta identitas masing-masing pihak yang terlibat. Dia memastikan, seluruh aktivis lingkungan hidup itu telah kembali ke rumah masing-masing.

Betul, sudah kembali untuk beristirahat,”

ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” yang menghadap ke arah Istana Merdeka di utara, sementara spanduk lainnya bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” menghadap ke selatan Bundaran Hotel Indonesia.

Bentuk Protes

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menjelaskan bahwa aksi kreatif tersebut merupakan bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap abai terhadap krisis iklim belakangan ini.

Menurutnya, jutaan warga dipaksa bertahan hidup di tengah bencana, mulai dari banjir bandang yang melanda Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem.

Greenpeace Indonesia terus menggaungkan suara masyarakat, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membuka mata terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat,”

kata Jeanny, dikutip dari website resmi Greenpeace, Selasa, 20 Oktober 2026.

Menurutnya, dampak paling parah akibat krisis iklim dirasakan oleh kelompok pekerja yang hidup dalam kerentanan ekonomi.

Selain cuaca ekstrem, bencana ekologis turut mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat, mengganggu sumber kehidupan, menekan pendapatan, serta mendorong kenaikan harga pangan.

Jeanny mencontohkan dampak kabut asap akibat karhutla yang berkepanjangan.

Kabut asap berkepanjangan adalah salah satu contoh nyata bagaimana krisis ekologis membebani kehidupan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan hingga aktivitas ekonomi sehari-hari,”

ujarnya.

Di tengah kondisi itu, masyarakat semakin terhimpit oleh kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja.

Greenpeace juga menyinggung janji pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan menyiapkan 19 juta lapangan kerja hingga meningkatkan kesejahteraan warganya.

Padahal, pemerintahan Prabowo-Gibran berjanji memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,”

tujar Jeanny.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.