Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Kemenkes Catat 333 Ribu Kasus ISPA akibat Karhutla, 75 Ribu Korbannya Balita!

Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026).
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 21 Oktober 2026.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap, terutama bagi kelompok rentan.

Kita harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,”

kata Then dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Jumat, 23 Oktober 2026.

Dari total kasus tersebut, sebanyak 258.298 kasus dialami warga berusia di atas lima tahun. Sementara itu, 75.172 kasus lainnya terjadi pada anak berusia 0–5 tahun atau balita. Kemenkes juga mencatat 4.522 kasus harian per 21 Oktober 2026.

Iklan

Peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian di tengah buruknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla.

Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kemenkes pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah daerah masuk kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 di atas 300.

Paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang dapat mengganggu kesehatan.

Dampaknya antara lain meningkatkan risiko ISPA, memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta memicu iritasi mata dan gangguan kulit.

Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, Kemenkes mengimbau masyarakat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.

Masyarakat dianjurkan memperbanyak minum air putih dan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk,”

tambahnya.

Kemenkes mengingatkan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau PPOK, agar lebih berhati-hati saat terjadi kabut asap.

Masyarakat yang mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk disarankan segera mencari pertolongan medis.

Untuk mendapatkan bantuan medis dalam kondisi kegawatdaruratan, masyarakat dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar