Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi menilai dampak krisis iklim terhadap kesehatan mental perlu dipahami dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing kelompok.
“Ibu hamil dan ibu yang mengasuh anak, komunitas pesisir yang menghadapi banjir rob dan kesulitan air bersih, penyandang disabilitas, lansia, serta anak-anak dapat menghadapi risiko berlapis ketika bencana dan perubahan lingkungan yang mengganggu kesehatan, penghidupan, mobilitas, maupun akses terhadap layanan dasar,”
kata Natasya dalam keterangan resmi yang diterima Owrite.id, Senin, 26 Oktober 2026.
Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian khusus karena dampak bencana dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, mobilitas, dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Pendataan dampak krisis iklim seharusnya tidak hanya berfokus pada kerusakan fisik dan kerugian material.
“Pemerintah perlu memperkuat pencatatan dampak nonfisik, termasuk kondisi kesehatan mental masyarakat setelah bencana,”
ujar dia.
Akurasi
Natasya juga menekankan pentingnya pendataan yang mempertimbangkan karakteristik masyarakat untuk membantu pemerintah menentukan kebutuhan bantuan.






