Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Di Balik Bencana Iklim, Ada Luka Mental Tak Kasatmata

Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian khusus karena dampak bencana dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan mereka.

Foto udara area persawahan yang terdampak kekeringan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (13/10/2026).
Foto udara area persawahan yang terdampak kekeringan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (13/10/2026). (ANTARA FOTO/Arnas Padda/agr)

Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi menilai dampak krisis iklim terhadap kesehatan mental perlu dipahami dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing kelompok.

“Ibu hamil dan ibu yang mengasuh anak, komunitas pesisir yang menghadapi banjir rob dan kesulitan air bersih, penyandang disabilitas, lansia, serta anak-anak dapat menghadapi risiko berlapis ketika bencana dan perubahan lingkungan yang mengganggu kesehatan, penghidupan, mobilitas, maupun akses terhadap layanan dasar,”

kata Natasya dalam keterangan resmi yang diterima Owrite.id, Senin, 26 Oktober 2026.

Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian khusus karena dampak bencana dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, mobilitas, dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Pendataan dampak krisis iklim seharusnya tidak hanya berfokus pada kerusakan fisik dan kerugian material.

“Pemerintah perlu memperkuat pencatatan dampak nonfisik, termasuk kondisi kesehatan mental masyarakat setelah bencana,”

ujar dia.

Akurasi

Natasya juga menekankan pentingnya pendataan yang mempertimbangkan karakteristik masyarakat untuk membantu pemerintah menentukan kebutuhan bantuan.

Iklan

“Data terpilah berdasarkan usia, status sosial ekonomi, disabilitas, kondisi kehamilan, dan lokasi tempat tinggal yang berisiko bencana juga diperlukan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara lebih cepat, tepat, dan inklusif,”

terang dia.

Selain pendataan, perluasan akses dukungan psikologis juga menjadi perhatian. Kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan lembaga filantropi dinilai dapat membantu menjangkau kelompok yang menghadapi hambatan ekonomi.

“TII mendorong agar kebijakan kesehatan mental disusun berdasarkan pengalaman hidup masyarakat dan konteks lokal, dengan melibatkan warga secara inklusif. Dengan begitu diharapkan krisis iklim tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis kelompok masyarakat yang paling rentan,”

tutur dia.

Iklan