Kabar Baik! Kasus ISPA akibat Karhutla Anjlok dari 15 Ribu Jadi 2 Ribu per Hari, Ini Kata Menkes
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyebut jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) harian di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami penurunan.
Pasien penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut jumlah kasus harian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turun menjadi sekitar 1.500 hingga 2.000 kasus.
Angka tersebut merosot dibandingkan puncaknya yang sempat mencapai sekitar 15.000 kasus per hari, seiring membaiknya kualitas udara setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah terdampak.
Kasus itu, itu kan secara kumulatif. Kita lihat yang per harinya. Per harinya, puncaknya tuh sempat di 15.000-an. Kemarin sebelum hujan, itu ke 3.000-an per hari,”
kata Budi saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 30 Oktober 2026.
Budi mengatakan, penurunan jumlah kasus harian tersebut berlanjut setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.
Iklan
Berdasarkan data yang dilihatnya, angka penambahan kasus ISPA kini berada di kisaran 1.500 hingga 2.000 per hari.
Sekarang angka yang saya lihat karena sudah hujan, itu turun ke sekitar 1.500 sampai 2.000-an,”
Menurut Budi, perkembangan tersebut terlihat di tujuh provinsi terdampak karhutla. Sebelumnya, pencemaran udara di sejumlah daerah sempat berada pada kategori sangat buruk hingga berbahaya.
Ia menyebut pemantauan dilakukan terhadap 81 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 daerah sebelumnya tercatat memiliki indeks standar pencemar udara (ISPU) pada kategori hitam, yakni di atas angka 300.
Waktu saya datang ke sana, itu masih sekitar 20, 30-an. Sekarang sudah turun ke angka belasan,”
ucapnya.
Budi menilai penurunan angka pencemaran udara menjadi salah satu tanda membaiknya kondisi di wilayah terdampak.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa membaiknya kualitas udara belum tentu berarti seluruh titik kebakaran telah padam, terutama kebakaran yang terjadi di lahan gambut.
Ia menjelaskan, kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Oleh sebab itu, air hujan perlu meresap hingga ke bagian dalam gambut agar sumber api benar-benar dapat dipadamkan.
Ya mudah-mudahan doain agar ini hujan terus, karena dengan hujan kita bisa menghilangkan kebakaran karena itu kan ada di dalam gambut ya. Jadi perlu memang airnya tuh masuk sampai ke dalam,”
harapnya.
Karena itu, Budi berharap hujan terus mengguyur wilayah terdampak agar proses pemadaman berjalan lebih efektif.
Selain membantu memperbaiki kualitas udara, hujan diharapkan dapat membasahi lapisan gambut yang masih menyimpan titik api.
Budi pun berharap kebakaran di wilayah terdampak segera dapat ditangani sehingga risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla semakin berkurang.