Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Karhutla Lahap 347 Hektare Lahan di Taliabu, Ancaman Belum Usai

Petugas masih menghadapi sejumlah kendala, terutama titik api yang tersebar, lahan kering, angin kencang, lokasi kebakaran sulit dijangkau.

Kebakaran hutan dan lahan melanda tiga kecamatan di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara.
Kebakaran hutan dan lahan melanda tiga kecamatan di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. (BPBD Kabupaten Pulau Taliabu)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mengakibatkan sekitar 347,06 hektare lahan terdampak. Kebakaran yang bermula sejak 5 Oktober 2026 tersebut meluas hingga mencakup tiga kecamatan dan 13 desa.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu, 4 November 2026, karhutla pertama kali terjadi di Desa Salati sekitar pukul 15.00 WIT. Api kemudian meluas ke Kecamatan Taliabu Barat Laut, Taliabu Lede, dan Taliabu Utara.

“Tidak ada laporan korban jiwa. BPBD Kabupaten Luwu bersama petugas pemadam kebakaran dan masyarakat setempat melakukan pemadaman dan pendinginan,”

kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan resmi.

Area

Di Kecamatan Taliabu Barat Laut, wilayah terdampak meliputi Desa Salati, Onemay, dan Nggele. Sementara di Kecamatan Taliabu Lede, kebakaran menjangkau Desa Lede, Langganu, Balohang, dan Todoli.

Iklan

Adapun di Kecamatan Taliabu Utara, karhutla berdampak pada enam desa, yakni Air Bulan, Bua Mobono, Ufung, Padang, Tikong, dan Nunu.

Selain luas lahan yang mencapai 347,06 hektare, BNPB memperkirakan 39.162 batang pohon turut terdampak akibat kebakaran tersebut.

BNPB menyebut titik api utama berhasil dipadamkan pada Kamis, 29 Oktober, sekitar pukul 00.30 WIT. Namun, upaya penanganan masih dilanjutkan melalui proses pendinginan dan pemantauan untuk mengantisipasi kemunculan kembali titik api.

Penanganan karhutla melibatkan BPBD, petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat. Seluruh unsur tersebut melakukan penanganan melalui pos komando dan mendistribusikan dukungan logistik serta peralatan pemadaman.

Petugas juga melakukan pemantauan udara menggunakan drone serta membuat sekat bakar secara manual dan mekanis guna menghambat penyebaran api.

Hujan

Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah pada 30 Oktober hingga 2 November turut membantu proses penanganan. Meski demikian, petugas masih menghadapi sejumlah kendala, terutama titik api yang tersebar, kondisi lahan kering, angin kencang, lokasi kebakaran yang sulit dijangkau, serta medan yang terjal.

“BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di wilayah dengan kondisi lahan kering,”

ujar Berton.

Masyarakat juga diminta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas.

“Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas setempat agar dapat ditangani sedini mungkin,”

tutur dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.