Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Retorika Antagonisme Prabowo Makin Kuat, Skor Naik pada Tahun Kedua Pemerintahan

Kajian UGM mencatat retorika antagonisme Prabowo meningkat selama dua tahun pemerintahan. Skornya naik dari 0,99 menjadi 1,32 dalam kajian 166 pidato.

Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.)

Cara Presiden Prabowo Subianto membangun pertentangan dalam pidato-pidatonya semakin terlihat dalam dua tahun pemerintahannya. Kajian Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan skor retorika antagonisme Prabowo meningkat dari 0,99 pada tahun pertama menjadi 1,32 pada tahun kedua.

Temuan ini tertuang dalam kajian Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS) PolGov UGM bertajuk Dua Tahun di Podium yang dirilis pada 26 Oktober 2026. Peneliti menganalisis 166 pidato publik Prabowo selama periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026.

Koordinator EPPOS PolGov UGM Arya Budi menjelaskan antagonisme merupakan bagian penting dari retorika populisme. Konsep ini terlihat ketika seorang pemimpin membagi masyarakat ke dalam dua kubu, yakni kelompok yang dianggap baik dan pihak yang ditempatkan sebagai lawan.

Iklan

Kedua konsep tersebut saling berkaitan. Tanpa antagonisme, populisme tidak dapat muncul secara utuh,”

ujar Arya dikutip dari YouTube Department of Politics and Government UGM, Kamis, 5 November 2026.

Salah satu contoh yang dibahas Arya adalah pernyataan Prabowo yang membandingkan tukang becak yang bekerja keras dengan orang-orang pintar yang mencuri uang rakyat.

Pidato Pertentangkan Dua Kelompok

Presiden Prabowo berpidato dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di JIExpo, Jakarta, 22 Oktober 2026.
Presiden Prabowo berpidato dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di JIExpo, Jakarta, 22 Oktober 2026. (Youtube/Sekretariat Presiden)

Menurut Arya, pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana retorika dibangun dengan mempertentangkan dua kelompok. Satu pihak digambarkan sebagai kelompok yang bekerja keras dan layak dihormati, sedangkan pihak lainnya ditempatkan sebagai kelompok yang buruk.

Dalam pengukuran tim peneliti, pernyataan-pernyataan Presiden diberi skor 0 hingga 4 berdasarkan tingkat populisme dan antagonisme yang terkandung di dalamnya.

Hasilnya, skor antagonisme Prabowo meningkat menjadi 1,32 pada tahun kedua pemerintahan, dibandingkan 0,99 pada tahun pertama. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin kuatnya unsur pertentangan dalam retorika yang disampaikan melalui pidato publiknya.

Sementara itu, skor populisme juga mengalami peningkatan dari 1,23 menjadi 1,65. Meski begitu Arya menjelaskan kedua konsep tersebut saling berkaitan karena populisme tidak terlepas dari pembentukan batas antara kelompok yang dianggap sebagai bagian dari rakyat dan pihak yang diposisikan sebagai lawan.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.