Pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali menilai hasil yang diraih Timnas Indonesia di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 harus dijadikan bahan pembelajaran penting bagi perkembangan sepak bola Tanah Air.
Meski gagal melangkah ke putaran final, Akmal menilai performa Garuda sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan dibanding edisi-edisi sebelumnya. Menurut Akmal, evaluasi menyeluruh tetap perlu dilakukan oleh PSSI untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk nasib pelatih Patrick Kluivert.
Evaluasi pasti dilakukan setelah hasil di babak keempat kualifikasi. Soal apakah Patrick Kluivert akan bertahan atau tidak, semua keputusan ada di tangan PSSI sebagai pemegang otoritas tertinggi sepak bola Indonesia,” ujar Akmal.
Performa Timnas Indonesia Jauh Lebih Baik
Akmal menegaskan bahwa meski gagal lolos, Timnas Indonesia sebenarnya tampil cukup baik selama babak keempat.
Menurutnya, Garuda sudah memberikan perlawanan luar biasa melawan tim kuat seperti Arab Saudi dan Irak dua negara dengan sejarah panjang di Piala Asia bahkan pernah menjadi juaranya.
Kita harus objektif. Lawan yang kita hadapi adalah tim dengan mentalitas dan pengalaman Piala Dunia. Dari sisi ranking saja, kita jauh tertinggal mereka di posisi 50 besar dunia, sementara Indonesia masih di sekitar peringkat 120,” jelas Akmal.
Ia menambahkan, peluang Indonesia untuk lolos sebenarnya sangat kecil sejak awal.
Berdasarkan banyak prediksi, peluang kita hanya sekitar 5 sampai 7 persen. Tapi justru dari situ, kita bisa melihat bahwa level permainan Indonesia sudah meningkat,” katanya.
Batu Loncat Menuju Piala Dunia 2030
Akmal mengingatkan publik agar tidak larut dalam kekecewaan. Sebaliknya, kegagalan kali ini seharusnya dijadikan bahan refleksi dan fondasi untuk membangun tim yang lebih kuat ke depan.
Hasil ini harus dijadikan pengalaman berharga. Progres Indonesia sudah terasa, tinggal bagaimana evaluasi dilakukan secara menyeluruh dan terukur agar empat tahun ke depan kita bisa tampil lebih tangguh di Kualifikasi Piala Dunia 2030,” ujarnya optimis.
Ia bahkan menyamakan situasi ini dengan perjuangan Indonesia pada 1985 ketika hampir lolos ke Piala Dunia 1986.
Momennya mirip. Waktu itu kita kalah dari Korea Selatan di fase akhir. Sekarang pun kondisinya hampir sama tinggal sedikit lagi,” tambahnya.
Realistis dan Bijak dalam Berekspektasi
Akmal mengajak para suporter untuk melihat kenyataan dengan kepala dingin. Menurutnya, Timnas Indonesia memang sedang bertumbuh dan belum mencapai level tim-tim besar Asia.
Kita harus jujur bahwa secara kualitas dan peringkat, kita masih tertinggal jauh. Negara-negara seperti Irak dan Arab Saudi sudah lama membangun sistem sepak bola yang kuat dari pembinaan usia dini, kompetisi, hingga mentalitas,” tegasnya.
Kadang kita ingin cepat-cepat ke Piala Dunia tanpa melihat realita. Padahal yang penting sekarang adalah membangun fondasi yang kokoh pembinaan yang baik, kompetisi yang sehat, dan manajemen yang profesional,” tambah Akmal.
Nasib Patrick Kluivert Ada di Tangan PSSI
Terkait masa depan pelatih Patrick Kluivert, Akmal menegaskan bahwa keputusan akhir epenuhnya ada di tangan PSSI.
Apakah Kluivert akan bertahan atau diganti, biarkan PSSI yang menilai. Itu bukan keputusan pengamat, bukan keputusan suporter, tapi wewenang federasi,” pungkasnya.
