Keputusan tersebut memicu reaksi internasional, dan IOC menilai tindakan itu berpotensi melanggar prinsip non-diskriminasi yang dijunjung tinggi dalam Piagam Olimpiade.
Namun, Erick menegaskan bahwa situasi ini tidak berarti Indonesia dibekukan dari dunia olahraga internasional. Ia menyebut bahwa komunikasi dan ruang diskusi dengan IOC masih terbuka lebar.
Kesempatan berdiskusi bersama IOC tetap terbuka. Jadi, jangan sampai pernyataan itu ditafsirkan seolah-olah kita tidak bisa lagi ikut ajang olahraga dunia,” tegasnya.
Buka Komunikasi dengan IOC
Menpora Erick Thohir menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk terus berkomunikasi dan mencari solusi diplomatis dengan IOC.
Menurutnya, pendekatan dialog adalah cara terbaik agar posisi Indonesia di dunia olahraga tetap terjaga.
Kami mendukung KOI untuk terus membuka komunikasi dengan IOC demi mencari jalan keluar terbaik. Tidak ada pintu yang tertutup,” ujar Erick.
Meski muncul polemik dengan IOC, Erick memastikan program olahraga nasional tidak terganggu. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tetap menjalankan blueprint keikutsertaan Indonesia di berbagai ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games, Youth Olympic, hingga
Olimpiade.
Kita tetap punya blueprint. Presiden Prabowo Subianto ingin agar Kemenpora fokus pada 17 cabang olahraga unggulan. Jadi semua program tetap berjalan,” jelasnya.
Erick juga meminta publik dan media untuk tidak membesar-besarkan isu IOC, karena hal tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman dan menurunkan semangat para atlet.
Mohon dukungan dari media agar tidak seolah-olah kita dibekukan. Atlet kita tetap harus bertanding dan berprestasi,” katanya menegaskan.