Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) resmi meluncurkan turnamen baru bertajuk FIFA ASEAN Cup, yang akan diikuti oleh seluruh 11 negara anggota ASEAN.
Kompetisi ini digadang menjadi momentum bersejarah untuk mendorong kemajuan sepak bola di Asia Tenggara sekaligus mempererat hubungan antarnegara di kawasan.
Sebelas negara peserta tersebut meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.
Langkah Bersejarah FIFA untuk ASEAN
Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan bahwa turnamen ini bukan hanya sekadar kompetisi regional, melainkan sebuah gerakan besar untuk menghidupkan semangat sepak bola di kawasan yang memiliki jutaan penggemar fanatik.
Turnamen ini akan membawa dampak besar, tidak hanya di Asia Tenggara, tetapi juga bagi dunia sepak bola global,” ujar Infantino, dikutip dari New Straits Times.
Kesepakatan penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup ditandatangani oleh Gianni Infantino bersama Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, dalam acara yang juga dihadiri oleh seluruh pemimpin negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, turut menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman tersebut.
Infantino menilai kolaborasi FIFA dan ASEAN memiliki makna simbolis yang mendalam, karena melibatkan 11 negara jumlah yang sama dengan pemain dalam satu
tim sepak bola.
Turnamen ini juga akan masuk dalam kalender resmi FIFA, memastikan kehadiran pemain terbaik dari masing-masing negara.
Angka sebelas adalah simbol harmoni dalam sepak bola. Melalui FIFA ASEAN Cup, kami ingin menyalakan kembali semangat olahraga dan memposisikan Asia Tenggara di panggung dunia,” ujar Infantino.
Pasar Potensial Sepak Bola Dunia
Infantino menambahkan, kawasan Asia Tenggara kini menjadi salah satu pasar paling potensial bagi industri sepak bola global, dengan lebih dari 700 juta penggemar aktif.
Melalui turnamen ini, FIFA ingin memperkuat fondasi sepak bola di level akar rumput, sekaligus meningkatkan kualitas kompetisi di kawasan.
Nota kesepahaman FIFA–ASEAN ini berfokus pada beberapa aspek utama mulai dari integritas pertandingan dan keamanan event internasional, lalu ada pendidikan dan pembinaan usia muda, dan pengembangan sepak bola perempuan dan komunitas.
Kami ingin membangun generasi baru pemain yang tumbuh di lingkungan yang sehat, aman, dan berdaya saing global,” tambah Infantino.
Sepak Bola Bukan Alat Politik
Dalam kesempatan yang sama, Infantino juga menegaskan sikap FIFA terhadap isu global, termasuk partisipasi Israel dan sanksi terhadap Rusia.
Ia menyatakan bahwa sepak bola harus tetap menjadi kekuatan pemersatu, bukan alat kepentingan politik.
Sepak bola seharusnya menjadi jembatan untuk perdamaian dan persatuan. Dunia membutuhkan lebih banyak momen yang mempersatukan, bukan memecah belah,” tegasnya.

