Namun, FIFA tidak menjatuhkan sanksi yang diminta oleh federasi Palestina yang sebelumnya mendesak agar IFA dikenai hukuman skorsing.
Meski demikian, IFA dinilai gagal untuk mematuhi tujuan statuta FIFA, dalam keputusan panjang yang diterbitkan oleh komite disiplin.
Dalam laporan tersebut juga diuraikan sejumlah insiden rasisme yang terjadi dalam sepak bola Israel.
Komite disiplin juga menyoroti sanksi terhadap Beitar yang dinilai tidak memadai dan secara substansi lemah dalam menangani perilaku rasis dan diskriminatif.
Para suporter telah terlibat dalam perilaku rasis yang terus-menerus dan terdokumentasi dengan baik,”
kata laporan itu melansir Aljazeera Sabtu, 21 Maret 2026.
Penggunaan slogan seperti ‘forever pure’ serta nyanyian berulang yang berisi hinaan etnis seperti ‘teroris’ yang ditujukan kepada pemain Arab bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari pola sistemik yang melanggar norma perilaku yang pantas dan mencoreng reputasi olahraga.”
laporan itu melansir Aljazeera
FIFA menegaskan, Beitar Jerusalem hanya contoh kecil dari kegagalan yang lebih luas dalam penanganan diskriminasi oleh IFA.
FIFA juga mengatakan bahwa IFA telah diberi peringatan dan diperintahkan untuk menampilkan sebuah spanduk pada tiga pertandingan kandang berikutnya di kompetisi FIFA dengan tulisan ‘Sepak Bola Mempersatukan Dunia Tidak untuk Diskriminasi’.
IFA pun diwajibkan mengalokasikan sepertiga dari denda yang dijatuhkan untuk melaksanakan rencana guna memastikan tindakan terhadap diskriminasi dan mencegah insiden berulang.
Setelah penyelidikan terpisah, FIFA mengumumkan tidak akan mengambil tindakan terhadap IFA terkait tuduhan bahwa klub-klub Israel yang berbasis di Tepi Barat yang diduduki ikut berpartisipasi dalam liga Israel.