Wacana boikot Piala Dunia FIFA 2026 semakin kencang bergema di Inggris menyusul sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu kontroversi internasional.
Ancaman terkait Greenland serta kebijakan tarif impor baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, memantik kemarahan lintas partai di parlemen.
Dorongan untuk mengambil langkah tegas tidak hanya datang dari satu kubu politik. Politisi dari Partai Konservatif, Partai Buruh, hingga Liberal Demokrat sama-sama menyerukan respons keras terhadap kebijakan Washington.
Anggota parlemen senior Partai Konservatif, Simon Hoare, tampil sebagai salah satu tokoh paling vokal.
Ia mendesak pemerintah Inggris mempertimbangkan opsi ekstrem, termasuk boikot Piala Dunia yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada musim panas ini.
Kita perlu melawan api dengan api. Trump mudah tersinggung, memiliki ego besar, dan tidak suka dipermalukan,”
kata Hoare dalam pernyataannya di Dewan Perwakilan Rakyat Inggris, dikutip Guardian.
Menurut Hoare, ajang olahraga justru bisa menjadi instrumen tekanan diplomatik yang efektif.
Haruskah tim sepak bola kita bermain di stadion Amerika untuk Piala Dunia? Ini adalah hal-hal yang akan mempermalukan presiden di dalam negeri,”
tambahnya.
Ia bahkan mengusulkan pembatalan kunjungan kenegaraan Raja Charles ke Amerika Serikat sebagai sinyal politik yang lebih keras. Gagasan tersebut turut mendapat dukungan dari pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey.
Harga Diri Trump Jadi Titik Lemah
Dari kubu Liberal Demokrat, anggota parlemen Luke Taylor menyuarakan pandangan serupa. Ia menilai pendekatan konvensional tidak akan efektif menghadapi Trump.
Satu-satunya hal yang dia tanggapi adalah harga dirinya sendiri,”
ujar Taylor.
Menurutnya, boikot Piala Dunia bisa menjadi pesan simbolik yang kuat dan sulit diabaikan oleh Presiden AS tersebut.
Dukungan terhadap boikot juga datang dari Partai Buruh. Anggota parlemen Kate Osborne menilai sikap Trump sudah melampaui batas kewajaran dalam hubungan internasional.
Ia menyinggung rekam jejak Trump yang dinilai bermasalah, mulai dari isu hak asasi manusia, pelecehan terhadap supremasi hukum, hingga ancaman terhadap Greenland dan tekanan terhadap pemerintah Inggris.
Amerika Serikat seharusnya tidak boleh berpartisipasi dalam Piala Dunia, apalagi menjadi tuan rumahnya,”
kata Osborne kepada Metro.
Gaung Boikot Meluas ke Eropa
Gelombang penolakan tidak hanya berhenti di Inggris. Sejumlah politisi Eropa turut mengangkat isu boikot sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap Trump.
Politikus Jerman, Jurgen Hardt, bahkan menyebut boikot Piala Dunia sebagai “jalan terakhir” untuk “membuat Trump sadar akan masalah Greenland.”
Desakan boikot kian menguat setelah Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 10 persen terhadap Inggris.
Tarif tersebut direncanakan naik menjadi 25 persen mulai 1 Juni, kecuali tercapai kesepakatan terkait ambisi Washington mengambil alih Greenland dari Denmark.
Kebijakan tarif serupa juga diarahkan kepada Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Finlandia, memicu kekhawatiran akan perang dagang lintas Atlantik.
Piala Dunia 2026 dan Sikap Tegas Inggris
Piala Dunia FIFA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli, dengan 16 kota tuan rumah.
Sebanyak 11 kota berada di Amerika Serikat, tiga di Meksiko, dan dua di Kanada. AS sendiri akan menjadi lokasi 78 dari total 104 pertandingan, seiring format baru turnamen yang melibatkan 48 tim.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka menolak kebijakan tarif Trump.
Dalam konferensi pers darurat, ia menyebut langkah tersebut “sama sekali salah” dan menegaskan bahwa tekanan ekonomi bukan cara menyelesaikan perbedaan di dalam aliansi.
Delapan negara NATO yang terdampak bahkan mengeluarkan pernyataan bersama, memperingatkan bahwa kebijakan Trump berpotensi menciptakan “spiral penurunan yang berbahaya” dalam hubungan transatlantik.
