FIFA cetak sejarah dengan pendapatan tertinggi dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Badan sepak bola dunia itu diproyeksikan mengantongi pendapatan hingga 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp262,5 triliun (1 dolar = Rp17.500).
Nilai ini melampaui target awal FIFA yang mematok keuntungan hingga 11 miliar dolar AS. Melansir dari The Guardian, capaian ini disampaikan langsung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino kepada seluruh anggota asosiasi FIFA pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Merujuk pada laporan The Guardian, besaran keuntungan FIFA ini tak lepas dari perubahan format Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kali diikuti oleh 48 negara.
Dengan bertambahnya jumlah peserta juga secara langsung meningkatkan pertandingan dari yang edisi lalu hanya 64 pertandingan menjadi 104 laga. Hal ini tentu akan membuka peluang cuan dari berbagai sektor.
The Guardian melaporkan pemasukan FIFA berasal dari penjualan hak siar, sponsor, lisensi, tiket, hingga paket hospitality. Salah satu penyumbang terbesar datang dari penjualan tiket, terutama melalui pasar penjualan kembali atau resale.
Dalam sistem itu, FIFA mengambil komisi sebesar 15 persen dari pembeli dan memperoleh komisi 15 persen dari pihak penjual tiket.
Harga tiket final Piala Dunia juga tidak main-main. Hingga beberapa jam sebelum laga Spanyol melawan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, paket VIP Trophy Lounge masih dijual seharga 34.500 dolar AS atau sekitar Rp603,7 juta per orang.
Tidak Sesuai Ekspektasi
Namun, di balik besarnya keuntungan yang diperoleh FIFA, manfaat ekonomi yang diterima kota-kota tuan rumah justru tidak sesuai ekspektasi.
Sejumlah indikator menunjukkan dampak euforia Piala Dunia 2026 terhadap sektor pariwisata dan perhotelan ternyata masih di bawah perkiraan.
Berdasarkan data dari National Travel and Tourism Office (NTTO) Amerika Serikat, jumlah kedatangan wisatawan internasional selama fase grup pada Juni hanya naik 0,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bahkan, kunjungan wisatawan dari Eropa turun 1,2 persen. Sementara itu, kedatangan wisatawan dari Asia merosot hingga 5,6 persen.
Kondisi serupa juga terjadi pada industri perhotelan. Data dari CoStar menunjukkan hotel-hotel di kota tuan rumah memang menaikkan tarif kamar selama Piala Dunia, tetapi tidak mengalami peningkatan tingkat hunian maupun permintaan kamar secara signifikan.
Padahal, FIFA sebelumnya memperkirakan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 akan memberikan dampak ekonomi hingga 30,5 miliar dolar AS bagi Amerika Serikat. Proyeksi itu didasarkan pada asumsi tingginya jumlah wisatawan mancanegara yang datang selama turnamen.
Profesor Emeritus Ekonomi Smith College Andrew Zimbalist menilai proyeksi tersebut sejak awal terlalu optimistis yang membuat dampak ekonomi yang dijanjikan sulit terealisasi.
Sama sekali tidak masuk akal jika akan ada keuntungan sebesar 30,5 miliar dolar bagi perekonomian AS,”
kata Zimbalist dikutip dari Forbes.
Tuan Rumah Menanggung Biaya dan Risikonya
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University Michael Edwards.
Ia mengatakan model bisnis FIFA membuat keuntungan terbesar dinikmati organisasi tersebut, sedangkan biaya justru ditanggung kota penyelenggara.
Model FIFA adalah FIFA memperoleh pendapatan, sedangkan kota-kota tuan rumah menanggung biaya dan risikonya,”
ujar Edwards.
Menurut analisis North Carolina State University, masing-masing dari 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko harus menggelontorkan dana sekitar 100 juta hingga 200 juta dolar AS untuk kebutuhan infrastruktur, transportasi, dan keamanan.
Selain itu, beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga memberikan berbagai insentif pajak kepada FIFA. Merujuk pada laporan Forbes, sedikitnya tiga negara bagian telah melepas potensi penerimaan pajak senilai 57,8 juta dolar AS demi menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2026.
Kontras antara lonjakan pendapatan FIFA dan manfaat ekonomi yang belum sesuai harapan bagi kota tuan rumah inilah yang kemudian jadi perdebatan mengenai siapa pihak yang paling diuntungkan dari ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.




















