Jadwal final Piala Presiden 2026 menuai perhatian setelah pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, menyoroti waktu pemulihan pemain yang dinilai terlalu singkat.
Menurutnya, pertandingan final yang digelar hanya dua hari setelah semifinal tidak sejalan dengan prinsip perlindungan pemain yang telah disepakati FIFA.
Persib Bandung dijadwalkan menghadapi Persebaya Surabaya pada partai final Piala Presiden 2026, Kamis, 6 Agustus 2026. Kedua tim sebelumnya baru menjalani laga semifinal pada Selasa, 4 Agustus 2026, sehingga masa istirahat yang tersedia kurang dari 72 jam.
Usai pertandingan semifinal, Igor Tolic secara terbuka menyinggung aturan FIFA mengenai jeda istirahat antarlaga.
Menurut pelatih asal Kroasia tersebut, regulasi tersebut dibuat untuk menjaga kondisi fisik dan mental pemain agar tetap optimal sepanjang musim.
Dalam regulasi FIFA terdapat aturan wajib bahwa setiap tim harus memiliki waktu istirahat minimal 72 jam antarpertandingan. Aturan ini dibuat untuk melindungi kesehatan fisik dan mental para pemain di seluruh dunia,”
ujar Tolic, Selasa 4 Agustus 2026.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Persib Bandung, melainkan seluruh klub peserta turnamen.
Saat berbicara tentang ini, saya tidak hanya membahas pemain Persib Bandung. Saya juga berbicara tentang pemain Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan Arema FC,”
kata Tolic.
Kesepakatan FIFA
Prinsip mengenai jeda minimal 72 jam bukanlah aturan yang muncul secara tiba-tiba. Kebijakan tersebut merupakan hasil pembahasan antara FIFA dengan berbagai organisasi perwakilan pemain sepak bola dunia.
Kesepakatan itu pertama kali ditegaskan dalam pertemuan Presiden FIFA Gianni Infantino, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström, dan sejumlah pejabat FIFA bersama serikat pemain dunia di New York pada Juli 2025, menjelang final Piala Dunia Antarklub FIFA.
Dalam forum tersebut, isu kesehatan pemain menjadi salah satu fokus utama dengan mengacu pada standar keselamatan kerja yang direkomendasikan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Selain menyepakati jeda minimal 72 jam di antara pertandingan, FIFA dan perwakilan pemain juga mendukung adanya masa libur minimal 21 hari pada akhir musim yang disesuaikan dengan kalender kompetisi masing-masing.
Kesepakatan tersebut kembali ditegaskan dalam Forum Konsultasi FIFA yang berlangsung di Rabat, Maroko, pada November 2025. Forum itu dihadiri lebih dari 30 organisasi pemain dari berbagai negara.
Dalam pertemuan tersebut, FIFA dan para perwakilan pemain mendukung empat prinsip utama kesejahteraan atlet, yaitu: jeda minimal 72 jam antarlaga, libur minimal 21 hari setiap akhir musim, satu hari libur setiap pekan, serta penyusunan kalender yang mempertimbangkan perjalanan antarbenua dan kondisi iklim.
Di FIFA, kami tetap berkomitmen meningkatkan kesejahteraan pemain dan kondisi kerja mereka di seluruh dunia melalui langkah-langkah konkret demi masa depan sepak bola yang lebih baik,”
ujar Gianni Infantino.
Pemain Diperhatikan
Pandangan serupa juga disampaikan oleh FIFPRO, organisasi serikat pemain sepak bola dunia. Menjelang Piala Dunia Antarklub FIFA 2025, FIFPRO merilis hasil Delphi Study yang melibatkan 70 pakar medis dan performa olahraga profesional.
Hasil penelitian tersebut menghasilkan 12 rekomendasi terkait perlindungan pemain, termasuk pentingnya waktu pemulihan yang cukup agar risiko cedera maupun kelelahan dapat diminimalkan.
Jika kita semua sepakat bahwa kesehatan harus menjadi prioritas, maka kita juga harus mengambil langkah untuk menerapkan perlindungan tersebut,”
ujar Gouttebarge.
Selain itu, FIFPRO juga meminta penyelenggara kompetisi mempertimbangkan faktor perjalanan jarak jauh, jet lag, serta beban pertandingan dalam menyusun kalender musim.
Keselamatan Pemain Diutamakan
Bagi Igor Tolic, persoalan jadwal bukan sekadar urusan teknis pertandingan, melainkan berkaitan langsung dengan keselamatan para pemain.
Ia menilai pelatih memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pemain tidak dipaksa tampil dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih.
Saya berbicara atas nama semua pemain karena merekalah yang harus tampil di lapangan. Sebagai pelatih, pekerjaan saya mungkin lebih mudah. Saya hanya berdiri di pinggir lapangan memberikan instruksi,”
ungkap Igor.
Tetapi para pemainlah yang harus bermain, tampil maksimal, dan memenangkan pertandingan. Tidak ada yang bertanya apakah mereka lelah atau tidak,”
tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Tolic kembali menekankan pentingnya melindungi pemain dari risiko akibat jadwal yang terlalu padat.
Saya merasa harus melindungi para pemain dan menjaga kesehatan mereka. Bayangkan jika dalam dua hari ke depan ada pemain yang mengalami serangan jantung akibat kelelahan. Siapa yang akan bertanggung jawab?”
tambah Tolic.





















