Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mendorong para suporter klub yang memiliki rivalitas tinggi untuk mulai membangun hubungan yang lebih positif. Silaturahmi dan edukasi menjadi bagian penting untuk menciptakan atmosfer sepak bola Indonesia yang lebih aman.
Rivalitas yang menjadi perhatian PSSI adalah suporter Arema FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.
Yunus berpendapat pertemuan antarsuporter dapat menjadi langkah awal untuk mengikis permusuhan yang selama ini berkembang. Ia bahkan membuka kemungkinan suporter tim tamu diundang untuk hadir dan bersilaturahmi ketika klubnya bertanding di kandang rival.
“Misalnya Arema dengan Persebaya. Kami berharap ada edukasi di sana. Kalau Arema bermain di kandang Persebaya, tidak apa-apa kami mengundang atau mempertemukan beberapa suporter Arema untuk datang ke Surabaya. Mereka bisa saling bersilaturahmi di sana,”
kata Yunus kepada awak media di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, dikutip pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Langkah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk agar suatu saat suporter dari klub-klub dengan rivalitas tinggi dapat berada di stadion yang sama untuk mendukung tim masing-masing.
Cabut Aturan
Operator kompetisi sepak bola Indonesia, I.League, telah mencabut aturan larangan suporter tandang untuk musim 2026/2027.
Kebijakan tersebut diterapkan selama empat tahun setelah Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. Meski demikian, pencabutan aturan tersebut tidak berarti suporter tandang otomatis dapat hadir pada seluruh pertandingan. Laga yang memiliki tingkat rivalitas tinggi masih mendapatkan perlakuan khusus.
Pertandingan seperti Arema FC vs Persebaya serta Persija Jakarta vs Persib Bandung masih dipastikan tidak menghadirkan suporter tim tamu.
Edukasi dan Mitigasi
Yunus menyatakan sosialisasi menjadi faktor penting sebelum kebijakan suporter tandang diterapkan secara lebih luas. Ia percaya hubungan antarsuporter sebenarnya tidak selalu buruk, persoalan justru lebih sering muncul di tingkat bawah karena ada rivalitas dan persoalan masa lalu yang belum terselesaikan.
“Saya yakin bahwa di tingkat atas, para suporter sebenarnya berkawan. Mereka saling menghargai dan menghormati. Namun, di tingkat bawah terkadang masih ada rivalitas dan mungkin ada masa lalu yang belum bisa dilupakan,”
kata Yunus.
Maka, PSSI memberikan ruang kepada operator dan klub untuk menyiapkan berbagai langkah mitigasi sebelum pertandingan dengan tingkat rivalitas tinggi digelar.
“PSSI sangat memberikan kepercayaan kepada operator dan klub. Kami sangat berharap ada mitigasi dan edukasi yang dilakukan oleh operator dan klub dalam rangka penerapan kebijakan suporter away itu,”
tambah dia.
Rivalitas Jangan Berujung Kerusuhan
Yunus berharap program silaturahmi antarsuporter tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Upaya tersebut harus menjadi bagian dari proses panjang untuk membangun budaya sepak bola yang lebih sehat.
PSSI ingin rivalitas tetap berada dalam koridor sportivitas dan tidak berkembang menjadi permusuhan yang memicu kerusuhan dan diharapkan dapat menjadi momentum bagi kelompok suporter untuk menjaga keamanan pertandingan bersama, serta mencegah keberulangan insiden yang dapat menyebabkan korban jiwa.
Dengan pendekatan edukasi, mitigasi, dan silaturahmi, PSSI berharap rivalitas seperti Arema-Persebaya maupun Persija-Persib perlahan dapat berubah menjadi persaingan sehat tanpa menghilangkan atmosfer panas yang menjadi bagian dari bal-balan.























