Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Olahraga

Imbas Asap Karhutla Indonesia, Pembalap F1: Singapura Tak Sehat untuk Bernapas

Pembalap Williams Team tersebut mengaku telah membaca informasi mengenai kondisi udara Singapura yang terdampak asap kebakaran dari Indonesia.

Sebuah kapal melintas di perairan Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026).
Sebuah kapal melintas di perairan Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026). (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.)

Menjelang Grand Prix (GP) Singapura, Kondisi udara di Singapura turut menjadi perhatian pembalap Formula 1 (F1). Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia membuat kualitas udara di negara tersebut berada dalam kondisi yang tidak sehat.

Dikutip dari Motorsport.com 9 Oktober, Salah satu pembalap F1 asal Spanyol, Carlos Sainz, menyoroti kondisi tersebut Ketika sedang diwawancarai. Pembalap Williams Team tersebut mengaku telah membaca informasi mengenai kondisi udara Singapura yang terdampak asap kebakaran dari Indonesia.

Saya sudah Membaca sedikit tentang itu, Saat ini, tempat itu tampaknya bukan tempat yang paling sehat untuk bernapas, mengingat polusi udara akibat kebakaran di Indonesia,”

ujarnya.

Sainz mengatakan, dirinya tetap mengikuti informasi dan arahan dari pihak berwenang terkait kondisi udara selama berada di Singapura. Menurutnya, seharusnya para pembalap F1 sudah terbiasa menghadapi berbagai kondisi saat berada di lintasan.

Iklan

Namun, Sainz menilai kondisi asap akibat kebakaran Indonesia tersebut merupakan persoalan yang berbeda. Ia tetap menganggap kualitas udara sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan sebelum para pembalap menjalani rangkaian GP Singapura 2026.

Dampak lainnya

Kondisi udara yang memburuk tidak hanya menjadi sorotan pembalap F1. Masyarakat Singapura juga diminta untuk mengurangi aktivitas fisik diluar ruangan ketika kualitas udara tersebut memasuki kategori yang tidak sehat.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan masalah jantung atau paru-paru mendapat anjuran yang lebih ketat.

Dilansir dari Asiaone, Jumat, 9 Oktober 2026, kondisi udara Singapura kembali memburuk. Indeks Standar Polutan dalam 24 jam di wilayah tengah mencapai 181 pada siang hari, sementara wilayah barat berada di angka 170. Angka tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat, yaitu 101 hingga 200.

Meski kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, balapan GP Singapura 2026 tetap dijadwalkan berlangsung. Federasi Formula 1 juga mengatakan kondisi tersebut tidak diperkirakan mengganggu aktivitas balapan di lintasan, meski pembatasan terhadap kegiatan luar ruangan dapat diberlakukan jika kondisi asap memburuk.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Aktif menulis berbagai artikel bertema liputan khusus, gaya hidup, hingga isu transportasi publik di OWRITE.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal