“Jadi, terhadap keputusan ini dapat diajukan banding sesuai dengan pasal yang ada. Memang, ruang untuk banding tetap diberikan,”
ujar Ferry dalam konferensi pers di kantor i.League, Rabu, 21 Oktober 2026.
“Namun, kami sebenarnya menganggap kurang tepat jika keputusan ini dipikirkan kembali, terutama terkait hukuman yang sudah dijatuhkan kepada Persija dan Jakmania,”
tambah dia.
Ingin Sanksi Lebih Tegas
Ferry menyayangkan kericuhan yang terjadi dalam pertandingan Persija melawan Persita. Menurutnya, tindakan sejumlah suporter yang berulang kali memicu keributan menjadi persoalan serius bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
Ia menilai perilaku tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam pertandingan, maka Ferry mendorong agar pelaku kerusuhan dapat menerima hukuman lebih berat apabila kembali melakukan pelanggaran serupa.
“Oleh karena itu, terhadap oknum-oknum yang terindikasi memiliki kecenderungan seperti itu, kami justru akan mendorong agar diberikan sanksi lebih berat. Kalau perlu, mereka dilarang menonton pertandingan seumur hidup,”
kata Ferry.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa i.League ingin mendorong penegakan aturan yang lebih tegas terhadap individu yang mengganggu keamanan pertandingan. Hukuman berat diharapkan dapat memberikan efek jera sekaligus mencegah terulangnya insiden serupa.
Peluang Pengurangan Poin
Selain wacana larangan menonton pertandingan seumur hidup bagi oknum suporter, Ferry turut menyinggung kemungkinan pemberian sanksi berupa pengurangan poin kepada klub.
Ia menjelaskan bahwa ketentuan mengenai hukuman tersebut belum tercantum dalam Kode Disiplin yang berlaku saat ini. Namun, i.League tidak menutup kemungkinan mendorong pembentukan regulasi tersendiri sebagai dasar penerapan sanksi pengurangan poin apabila diperlukan.
“Di dalam Kode Disiplin belum tertera ketentuan tersebut. Namun, terkait indikasi larangan atau kerusuhan yang terjadi, tidak menutup kemungkinan kami akan mendorong agar dibuat regulasi tersendiri yang memungkinkan pemberian sanksi berupa pengurangan poin,”
kata Ferry.
Wacana ini menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk memperkuat penegakan disiplin dalam kompetisi. Meski begitu, pengurangan poin belum menjadi sanksi yang dipastikan berlaku karena masih memerlukan dasar regulasi yang jelas.
Ferry menegaskan bahwa tindakan sejumlah oknum yang berpotensi memicu keributan tidak boleh mengganggu kenyamanan penonton lain. Stadion seharusnya menjadi tempat yang aman bagi seluruh kalangan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola.
Maka diperlukan langkah tegas terhadap pihak-pihak yang berulang kali melakukan pelanggaran dan berpotensi mengganggu ketertiban.
“Namun, jika ada beberapa oknum, terutama suporter, yang terus mengganggu dan berpotensi menimbulkan keributan, kami pasti akan mendorong agar mereka diberikan sanksi yang berat,”
imbuh dia.
Dengan ada sanksi terhadap Persija dan The Jakmania, i.League berharap seluruh klub serta kelompok suporter semakin memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban. Evaluasi aturan juga berpotensi menjadi bagian dari upaya mencegah kerusuhan serupa terulang dalam kompetisi sepak bola nasional.