“Penalti dari situasi sepak pojok dan kartu merah itu mengubah segalanya. Jadi, ini bukan lagi sebuah pertandingan. Ini sama sekali bukan pertandingan,”
ujar Amorim dalam wawancara kepada Sky Sport Italia, dikutip pada Jumat, 23 Oktober.
“Kami tidak punya waktu untuk bangkit dari penalti pertama. Kami mencoba menekan di menit-menit akhir, tetapi gol ketiga lawan membuat segalanya makin sulit,”
lanjut pelatih asal Portugal tersebut.
Dua Kesalahan Fatal
AC Milan kehilangan kendali setelah melakukan kesalahan dalam situasi bola mati. Insiden pertama terjadi ketika Koni De Winter melakukan handball saat berusaha mengantisipasi sepak pojok Bournemouth.
Wasit kemudian menunjuk titik putih. Justin Kluivert yang dipercaya menjadi eksekutor mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan membawa Bournemouth unggul 1-0.
Masalah Milan bertambah ketika Mike Maignan melanggar pemain Bournemouth, Tyler Adams, di dalam kotak penalti saat situasi sepak pojok. Maignan kedapatan mendorong wajah lawan hingga wasit memberikan kartu merah langsung dan menghadiahkan penalti kedua untuk tuan rumah.
Bermain dengan 10 orang membuat situasi semakin sulit bagi Rossoneri. Marcus Tavernier yang menjadi algojo penalti sukses menggandakan keunggulan Bournemouth.
Kartu Merah Maignan
Kartu merah Maignan menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan. Kehilangan kiper utama pada menit ke-28 membuat AC Milan harus mengubah pendekatan permainan ketika masih berusaha mengejar ketertinggalan.
Amorim menilai timnya seharusnya mampu menghindari tindakan yang merugikan seperti itu, terlebih karena skuad Milan memiliki pemain berpengalaman.
“Itu benar, kami tidak boleh melakukan hal seperti itu. Kami harus menjaga 11 pemain tetap berada di lapangan. Di tim ini ada pemain-pemain berpengalaman, tetapi sekarang kami harus segera bangkit dan bersiap untuk laga berikutnya,”
tegas Amorim.
Bournemouth kemudian memanfaatkan keunggulan situasi tersebut untuk menjaga tekanan terhadap pertahanan Milan. Pada pengujung pertandingan, Amine Adli mencetak gol ketiga melalui tendangan bebas yang memastikan kemenangan 3-0 bagi The Cherries.
Perpanjang Tren Negatif Amorim
Hasil buruk di Vitality Stadium menambah tekanan terhadap Amorim. Kekalahan tersebut juga memperpanjang catatan negatif ketika menghadapi Bournemouth, yang sebelumnya turut menjadi lawan sulit saat ia masih menangani Manchester United.
Bagi AC Milan, hasil ini menjadi pukulan dalam persaingan fase liga Europa League musim 2026/2027. Dari tiga pertandingan yang telah dimainkan, Rossoneri sudah menelan dua kekalahan.
Sebelum takluk dari Bournemouth, Milan lebih dahulu kalah 0-2 dari Benfica di San Siro. Rangkaian hasil tersebut membuat tim asuhan Amorim perlu segera memperbaiki performa jika ingin menjaga peluang bersaing di kompetisi Eropa.
Di tengah kritik terhadap performa tim selama sekitar 100 hari kepemimpinannya di San Siro, Amorim meminta semua pihak memahami bahwa Milan sedang berada dalam fase yang berbeda dibandingkan masa kejayaannya.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa proses membangun tim membutuhkan waktu. Ia juga menyinggung besarnya sejarah AC Milan, tetapi mengingatkan pentingnya melihat situasi klub secara realistis.
“Ini adalah bagian dari proses perjalanan. Jika melihat sejarah besar Milan, saat ini kami berada di titik yang berbeda. Saya paham apa yang dikatakan Fabio Capello tentang sejarah klub ini, tetapi kami harus realistis,”
tutur Amorim.
Meski kecewa dengan hasil pertandingan, Amorim tetap memberikan apresiasi kepada para pemain yang berusaha menghadapi situasi sulit di lapangan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi tim.
“Saya menghargai cara para pemain berjuang di lapangan, saling membantu satu sama lain dalam situasi sulit. Kami harus belajar dari momen-momen seperti ini dan menyadari bahwa inilah sepak bola,”
ucap dia.
Harus Segera Bangkit
Kekalahan 0-3 dari Bournemouth memperlihatkan sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan AC Milan, terutama dalam mengantisipasi situasi bola mati dan menjaga disiplin di lapangan.
Dua penalti serta kartu merah Maignan membuat Rossoneri kehilangan momentum sejak awal pertandingan. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan Bournemouth untuk mengamankan kemenangan tanpa kebobolan.
Amorim kini dituntut membawa Milan segera bangkit dan memperbaiki hasil pada pertandingan berikutnya. Dengan dua kekalahan dari tiga laga awal, konsistensi permainan dan pengurangan kesalahan mendasar menjadi faktor penting bagi Rossoneri untuk kembali bersaing di Liga Europa.