Yang pertama, film berjudul: Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2023. Film ini berkisah tentang seorang mahasiswa bernama Kiran yang hidupnya berubah drastis saat ia bergabung dengan sebuah kelompok keagamaan garis keras yang dipimpin oleh Abu Darda (Ridwan Raoull).
Alih-alih mendapatkan ketenangan batin atau hidayah, Kiran justru menjadi korban pelecehan seksual sang guru. Kemudian upayanya untuk mengungkap aib sang guru bersama sahabat laki-lakinya yang berstatus ustad dari satu pengajian, justru berakhir dengan kekecewaan.
Karena sahabatnya tersebut merenggut harga dirinya, dan tidak mau mengakui perbuatannya. Ketika ditemui olehnya sahabatnya berkata: “ Antara kamu dan saya, mana yang lebih dipercaya oleh orang-orang.”
Yang kedua, serial film Serial drama Malaysia berjudul Bidaah (2025), yang lebih dikenal sebagai film “Walid”. Mengisahkan tentang Baiduri, seorang gadis muda dari keluarga religius yang dipaksa oleh ibunya, Kalsum, untuk bergabung dengan sebuah kelompok keagamaan bernama Jihad Ummah.
Kelompok ini dipimpin oleh Walid Muhammad, seorang pria karismatik yang mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi, juru selamat akhir zaman.
Awalnya, Baiduri melihat Jihad Ummah sebagai komunitas pengajian biasa yang mengajarkan kebaikan. Namun ia segera menyadari, bahwa di balik ajaran tersebut tersimpan rahasia kelam, termasuk praktik pernikahan paksa, ketaatan buta, dan ritual aneh seperti meminum air rendaman kaki Walid.
Bersama Hambali, putra Walid yang menentang ayahnya, Baiduri berusaha mengungkap kebusukan kelompok tersebut dan membebaskan diri dari cengkeraman sekte sesat itu.
Yang ketiga Film Purificacion (2022) dari Filipina, yang mengisahkan tentang Inspektur Polisi Gabriela Isidro yang menyelidiki serangkaian pembunuhan mengerikan terhadap perempuan-perempuan di kota Santa Monica.
Para korban ditemukan tewas tergantung di pohon dengan luka mirip stigmata di tangan dan kaki, dan semuanya dikaitkan dengan perbuatan dosa seperti perzinahan, prostitusi, perampasan tanah, dan kecanduan narkoba.
Dalam penyelidikannya, Gabriela yang juga seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, justru mulai terpesona pada Pastor Ricardo Purificacion, seorang imam muda yang dicintai warga setempat.
Namun di balik pesona dan reputasinya yang baik, Pastor Ricardo menyimpan rahasia kelam. Dia dengan sengaja menyesatkan Gabriela dan memanfaatkan kedekatan mereka.
Sementara Gabriela perlahan terjebak dalam daya tarik berbahaya sang imam, tanpa menyadari bahwa pria yang ia percayai mungkin adalah pelaku di balik semua pembunuhan tersebut
Ketiga film tersebut sama-sama berkisah tentang penyalahgunaan otoritas “agamawan” yang menjurus kepada kesesatan dan kriminalitas dengan cara memanipulasi ajaran suci, membangun relasi kuasa yang timpang, dan menciptakan budaya diam di lingkungan yang mereka kelola.
Yang berbahaya, persoalan kekerasan yang dihasilkan oleh penyalahgunaan otoritas “keagamaan” itu bersifat fisik, simbolik, dan psikologis yang membuat korban pada akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengenali pengalaman mereka sebagai bentuk kekerasan seksual.
Untuk melawan penyalahgunaan otoritas keagamaan yang menyimpang, kita perlu memahami seputar “cult of personality “ atau “kepribadian kultus”.
Saya mengenal istilah ini ketika mengkaji seputar gereja Scientology yang didirikan oleh Lafyette Ron Hubbard pada tahun 2018, yang merupakan Gerakan new religious movement atau NRM, yaitu kelompok keagamaan atau spiritual yang berada di luar arus utama dari kebudayaan maupun agama dominan di masyarakatnya.
Cult of personality adalah mesin psikologis yang dirancang untuk memproduksi penyembahan absolut kepada seseorang. Di lingkungan pesantren, bahaya ini tidak selalu tampil sebagai pemujaan terbuka karena sering menyusup lewat bahasa penghormatan, keberkahan, dan ketaatan.
Ketika seorang kiai atau ustadz tidak lagi dipandang sebagai guru yang dihormati, melainkan sebagai pusat kebenaran yang tak boleh dipertanyakan, maka pesantren berubah dari tempat menimba ilmu menjadi kamp konsentrasi untuk mencetak loyalitas.
Kritik dianggap dosa, sikap kritis dianggap kurang adab, dan perbedaan pendapat dianggap pengkhianatan, dan membongkar “aib” sang guru dianggap sebagai tidak beriman.
Untuk melawannya, bukan berarti harus membangkang kepada guru, melainkan menolak menjadikannya sebagai Tuhan kecil yang menggantikan fungsi kebenaran.
Apa yang baik menurut penilaian kita, maka patut kita ikuti. Namun sebaliknya, jika tidak “baik” tidak perlu diikuti. Harus membedakan dan mengambil sikap tegas mana yang termasuk ta’dzim, yaitu penghormatan kepada guru, dengan yang termasuk taqdis, yaitu pengudusan yang membuat seseorang tak bisa salah.
Idealnya, otoritas kiai atau ustaz semestinya bersifat keilmuan, bukan magis-absolut. Mereka bisa benar, bisa salah, bisa terjerumus dalam kejahatan, dan tetap terikat pada teks, konteks, serta tanggung jawab moral.
Dan yang tak kalah penting, melawan cult of personality juga membutuhkan budaya kolektif, bukan hanya keberanian individu yang mendorong agar pesantren dapat membuka ruang dialog, melindungi hak bertanya, menyediakan mekanisme pengaduan, mengevaluasi pengajar secara fair, dan menjaga transparansi.
Karena sejatinya, loyalitas tertinggi seorang santri adalah kepada Allah dan kebenaran, bukan kepada persona manusia.
Oleh:
Mansurni Abadi
Aktivis Ikatan mahasiswa Muhammadiyah Cabang Malaysia dan Asisten peneliti di Institut Kajian Etnik, Universitas kebangsaan Malaysia, Malaysia