Ada momen tak biasa dalam balapan Formula 1 (F1) Grand Prix Bahrain yang digelar di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Pasalnya, sejumlah mobil tiba-tiba kehilangan tenaga bahkan berhenti saat menjalani formation lap atau putaran sebelum balapan dimulai.

Pertama mobil Max Verstappen tiba-tiba kehilangan tenaga, disusul Lewis Hamilton dan disusul  mobil beberapa pembalap lain juga ikut berhenti di lintasan.

Akibatnya, start balapan harus diulang dan seluruh mobil kembali ke pit lane.

Dikutip dari Motorsport.com, kejadian ini ternyata disebabkan software bug pada perangkat lunak yang digunakan F1.

Perangkat lunak ini dikembangkan FIA bersama tim-tim F1 untuk menghadapi balapan dalam kondisi basah.

Dalam kondisi hujan, FIA menerapkan pengaturan khusus untuk menjaga keselamatan pembalap, yakni membatasi tenaga listrik maksimal dari 350 kilowatt menjadi 250 kilowatt di area lintasan tertentu.

Komponen Listrik

Mobil F1 generasi 2026 memang memiliki komponen listrik yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya.

Karena itu, tenaga listrik yang dikeluarkan perlu dikontrol ketika grip atau daya cengkeram ban ke aspal berkurang akibat hujan.

Nah, masalah muncul ketika mobil berjalan sangat pelan di belakang Safety Car atau mobil pengaman yang masuk ke lintasan ketika kondisi balapan dianggap terlalu berbahaya. Dalam situasi ini, seluruh pembalap wajib memperlambat mobil dan menjaga jarak.

Di beberapa lintasan Sepang termasuk Turn 9, kecepatan mobil menjadi sangat rendah. Kondisi tersebut ternyata memicu bug atau kesalahan pada perangkat lunak FIA.

Hal ini berkaitan dengan MGU-K atau Motor Generator Unit-Kinetic, yaitu motor listrik yang bisa mengambil energi saat mobil melakukan pengereman dan menyimpannya ke baterai. Energi tersebut kemudian bisa digunakan kembali untuk membantu memberikan tenaga pada mobil melalui Energy Recovery System (ERS).

Jadi, ketika pembalap mengerem, sebagian energi yang biasanya terbuang dapat dipanen oleh MGU-K dan disimpan di baterai. Energi itu kemudian bisa digunakan kembali sebagai tambahan tenaga listrik.

Masalah muncul ketika mobil berjalan sangat pelan dalam kondisi hujan. Melansir dari Autosport, saat mobil berada pada kecepatan yang sangat rendah, tekanan turbo mesin juga ikut turun.

Di sisi lain, MGU-K pada bagian tertentu lintasan juga tidak memberikan tenaga seperti biasanya, karena sistem pengaturan energi dalam kondisi basah. Kombinasi keduanya inilah yang kemudian membuat mobil kehilangan respons terhadap gas dan bahkan berhenti di lintasan.

Masalah ini ternyata juga berkaitan dengan sistem pengamanan bernama continuous offset yang dirancang untuk mencegah tim F1 mengeksploitasi pengaturan tenaga listrik atau MGU-K demi mendapatkan keuntungan performa.

Jika sistem mendeteksi kondisi tertentu, MGU-K dapat dikunci selama sekitar 60 detik. Namun di Sepang, sistem ini justru terpicu ketika mobil melaju sangat lambat sehingga aktif dalam kondisi yang tidak seharusnya.

Pedal Gas

Pembalap Haas Oliver Bearman bahkan mengaku kaget karena pedal gas mobilnya terasa seperti tidak terhubung dengan mesin.

Pedal gas saya tiba-tiba tidak berfungsi,”

ujar Bearman, dikutip dari Motorsport.com, pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Setelah mengetahui sumber masalahnya, FIA kemudian bergerak cepat. Perangkat lunak yang bermasalah kemudian diperbarui dan diberikan kepada seluruh tim untuk dipasang pada mobil mereka.

Selain itu, FIA juga menghentikan sementara pembatasan energi 250 kW di sektor yang menjadi sumber masalah.

Sebagai gantinya, FIA memberikan semacam patch darurat agar mobil tidak kembali kehilangan tenaga ketika melewati aspal yang basah karena hujan.

Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 20 menit hingga seluruh tim menyelesaikan penyesuaian dan balapan bisa dimulai kembali.

Direktur Single-Seater FIA Nikolas Tombazis mengakui FIA memang sudah menguji perangkat lunak tersebut. Beberapa tim juga telah melakukan pengujian dalam kondisi basah.

Namun, masalahnya pengujian tersebut tidak dilakukan dalam kondisi yang sama seperti saat kejadian di Malaysia.

F1 2026 baru menjalani sedikit sesi dalam kondisi basah. Pengujian ban Pirelli sebelumnya memang dilakukan dalam kondisi basah, tetapi mobil tidak berjalan dengan kecepatan sangat rendah seperti ketika berada di belakang Safety Car di Sepang.

Perangkat lunak tersebut telah diuji. Hanya saja, pengujiannya tidak dilakukan dalam kondisi-kondisi spesifik tersebut,”

kata Tombazis, dikutip dari Motorsport.com.

Tombazis mengatakan FIA belum bisa menjamin tidak akan ada masalah perangkat lunak lain pada masa mendatang.

Menurutnya, sistem power unit F1 memang semakin kompleks karena harus menggabungkan mesin pembakaran internal dengan sistem tenaga listrik.

FIA bersama tim dan produsen power unit akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan masalah serupa tidak terulang kembali.

FIA juga mengakui bahwa insiden tersebut belum terdeteksi ketika pengujian maupun saat mobil menjalani putaran menuju grid.