Pembalap Honda asal Italia, Luca Marini, kembali berada di Indonesia untuk menjalani persiapan menghadapi MotoGP Mandalika. Namun, kedatangannya kali ini tidak hanya membuatnya antusias menyambut balapan.

Adik dari legenda MotoGP Valentino Rossi tersebut justru memiliki pengalaman menarik selama berada di Indonesia.

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang hampir selalu menyantap makanan bersama nasi.

Marini menceritakan pengalamannya tersebut ketika menghadiri acara Meet and Greet di Alam Sutera, Tangerang, pada Selasa malam 6 Oktober 2026.

Menurut pembalap berusia 29 tahun itu, nasi merupakan makanan yang sangat mudah ditemui selama berada di Indonesia.

Bahkan, kebiasaan tersebut cukup berbeda dengan apa yang biasa dia lihat ketika berada di negara-negara Barat.

Nasi sangat mudah ditemukan di Indonesia, ketika kami melakukan perjalanan dari negara barat ke sini, nasi selalu mudah dicari. Ya, benar sekali (kalian selalu makan apa pun dengan nasi),”

ujar Marini.

Kebiasaan Menggoreng Makanan

Tak hanya nasi, Marini juga memperhatikan cara masyarakat Indonesia mengolah makanan. Ia mengaku cukup terkejut dengan banyaknya makanan yang dimasak dengan cara digoreng.

Menurut pengamatannya, beragam jenis makanan, mulai dari ayam hingga makanan laut, kerap disajikan dalam bentuk gorengan.

Kalian sangat suka menggoreng semua makanan. Seafood, digoreng. Ayam, juga digoreng. Tapi tidak apa-apa lah,”

tuturnya.

Kebiasaan tersebut dinilai Marini cukup berbeda dibandingkan pola makan yang biasa ia temukan di Eropa, termasuk di negara asalnya, Italia.

Meski demikian, Marini tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut. Ia justru terlihat menikmati pengalaman mencoba berbagai makanan selama berada di Indonesia.

Ada satu hal lain dari kuliner Indonesia yang ternyata cukup mengejutkan Luca Marini, yakni rasa pedas.

Pembalap Honda tersebut mengaku belum terlalu hafal soal berbagai nama makanan pedas khas Indonesia. Namun, ia sudah merasakan sendiri betapa kuatnya cita rasa pedas makanan yang dicobanya.

Marini bahkan menilai tingkat kepedasan makanan Indonesia cukup tinggi dibandingkan kebiasaannya dalam mengonsumsi makanan pedas.

Saya tidak terlalu hafal soal nama-nama makanan pedas di Indonesia. (Makanan) kalian pedasnya benar-benar keterlaluan, sementara saya (makannya) sedang-sedang saja,”

ungkapnya.

Pengalaman mencicipi kuliner Indonesia pun menjadi salah satu cerita menarik bagi Marini selama berada di Tanah Air menjelang balapan MotoGP Mandalika.

Balapan di Mandalika

Di luar cerita soal kuliner Indonesia, fokus utama Luca Marini tetap tertuju pada balapan MotoGP Mandalika. Marini mengaku sudah tidak sabar kembali mengendarai motornya di Sirkuit Mandalika.

Ia bahkan menyebut lintasan yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tersebut sebagai salah satu sirkuit favoritnya.

Salah satu bagian yang paling disukai Marini adalah sektor dua. Menurutnya, pemandangan laut dan atmosfer yang dirasakan dari lintasan tersebut membuat balapan di Mandalika memiliki sensasi tersendiri.

Mandalika merupakan salah satu sirkuit yang saya paling suka, terutama di sektor dua ketika saya bisa melihat laut dan menikmati atmosfer. Hal itu membuat balapan terasa sangat spesial,”

terangnya.

Selain pemandangan dan atmosfer, Marini juga merasa karakter Sirkuit Mandalika cocok dengan gaya balapnya.

Ia menyebut dirinya mampu melaju dengan kecepatan tinggi di lintasan tersebut. Kondisi cuaca panas yang menjadi ciri khas balapan di Mandalika juga bukan menjadi masalah baginya.

Saya juga selalu merasa bisa melaju kencang di sana. Saya sangat menyukai balapan di kondisi panas dan saya benar-benar menyukai karakter tikungan-tikungan di Sirkuit Mandalika,”

kata dia menambahkan.

Dengan pengalaman positif tersebut, Luca Marini tentu berharap bisa kembali menunjukkan performa kompetitif pada MotoGP Mandalika.

Sambil menantikan persaingan di lintasan, pembalap asal Italia itu juga membawa sejumlah pengalaman unik dari Indonesia, mulai dari nasi, makanan goreng, hingga cita rasa pedas yang menurutnya cukup ekstrem.