Artinya, kesepakatan F1 dengan negara Afrika Timur itu belum diikuti oleh rencana serupa dari kejuaraan balap motor dunia.
Saat ini, tidak ada proyek melibatkan Kejuaraan Dunia MotoGP dengan fasilitas Bugesera, lokasi sirkuit di Rwanda,”
tulis GPOne seperti dikutip Kamis 15 Oktober 2026.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa sirkuit yang dirancang untuk F1 tidak serta-merta dapat digunakan untuk menggelar balapan MotoGP.
Ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebelum sebuah lintasan bisa menjadi tuan rumah kejuaraan balap motor.
Perlu diketahui pula, sirkuit dengan desain untuk Formula 1 tak otomatis cocok untuk MotoGP. Semua Grand Prix di balapan sepeda motor harus melalui pengujian khusus dari homologasi FIM,”
lanjut laporan tersebut.
Terakhir di Afrika pada 2004
MotoGP sudah cukup lama tidak menggelar seri balapan di benua Afrika. Catatan terakhir menunjukkan kejuaraan tersebut berlangsung di Afrika pada 2004, ketika Valentino Rossi keluar sebagai pemenang bersama Yamaha.
Sejak saat itu, Afrika belum kembali menjadi bagian dari kalender MotoGP. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah kawasan lain yang rutin menjadi lokasi penyelenggaraan balapan motor kelas dunia.
Sementara itu, F1 terakhir kali menggelar Grand Prix di Afrika pada 1993. Balapan tersebut berlangsung di Sirkuit Kyalami, Johannesburg, Afrika Selatan, dan dimenangi pembalap legendaris Alain Prost.
Perbedaan sejarah penyelenggaraan kedua kejuaraan ini membuat wacana kembalinya motorsport kelas dunia ke Afrika kembali menjadi perhatian, terutama setelah munculnya rencana GP Rwanda.
GP Rwanda Peluang Baru F1
Pembahasan mengenai kemungkinan MotoGP kembali ke Afrika menguat setelah F1 mengumumkan kerja sama berdurasi 10 tahun dengan Rwanda.
Balapan perdana di negara tersebut ditargetkan berlangsung pada awal 2030-an.
Kesepakatan ini menjadi langkah penting bagi F1 untuk memperluas jangkauan kejuaraannya ke Afrika. Selama lebih dari tiga dekade, benua tersebut tidak menjadi tuan rumah seri balapan F1.
Karena MotoGP dan F1 sama-sama merupakan kejuaraan motorsport bergengsi di dunia, perkembangan tersebut memunculkan harapan bahwa balapan motor juga suatu saat dapat kembali digelar di Afrika.
Meski demikian, rencana F1 tidak otomatis menjadi petunjuk bahwa MotoGP akan mengambil langkah serupa. Kedua kejuaraan memiliki kebutuhan teknis dan persyaratan penyelenggaraan yang berbeda.
Perhatian terhadap kemungkinan kembalinya MotoGP ke Afrika juga tidak lepas dari hubungan kepemilikan kedua kejuaraan tersebut. MotoGP diakuisisi Liberty Media pada 2025, sementara perusahaan asal Amerika Serikat itu telah berada di balik F1 sejak 2017.
Kesamaan pemilik membuat arah pengembangan kedua kejuaraan kerap dibandingkan, termasuk dalam pembahasan mengenai ekspansi pasar dan penambahan lokasi balapan.
Namun, kesamaan tersebut tidak berarti seluruh keputusan terkait kalender balapan akan dilakukan secara bersamaan.
MotoGP tetap harus mempertimbangkan kelayakan lintasan, aspek keselamatan, serta persyaratan homologasi yang ditetapkan federasi balap motor internasional, FIM.
Dengan demikian, pembangunan sirkuit untuk F1 di Rwanda belum cukup untuk memastikan bahwa lintasan tersebut juga dapat digunakan oleh MotoGP.