Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, memberi tanggapan terkait rencana Kaesang Pangarep yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Pilkada 2029 mendatang.
Efriza mempertanyakan apakah Kaesang sudah membidik calon legislator untuk pindah ke partai yang ia dirikan.
Karena kemenangan dari partai-partai yang tidak pernah punya riwayat masuk parlemen itu, tidak akan bisa kalau tidak mengambil dari orang-orang kutu loncat,”
ujarnya kepada owrite baru-baru ini.
Efriza pun memberi contoh Partai Nasdem, yang posisinya makin kuat di partai politik karena banyak kutu loncat dari Golkar dan Hanura. Kemudian juga Partai Amanat Nasional (PAN), yang banyak menggandeng artis hingga semakin eksis.
Pertanyaannya, apakah PSI sudah punya rekrutmen yang baik? Kaderisasi yang baik? Apakah ia sudah dianggap layak oleh para politisi untuk loncat pagar? Kalau tidak, jangan bermimpi jadikan kandang banteng diambil alih PSI,”
katanya.
Efriza menambahkan, sampai saat ini ia melihat PSI ini masih belum memiliki bentuk. PSI masih mengkultuskan Jokowi, sementara untuk program belum memiliki bentuk yang jelas.
Kenyataan di lapangan juga belum dirasakan oleh masyarakat. Dalam bentuk merekrut orang-orang, juga tidak punya. Dan jangan lupakan pula, kuatnya Nasdem karena ada media. Pertanyaannya, PSI ini apa punya Media yang bisa menjelaskan apa itu PSI?,”
jelasnya.
Ia juga mengkritik PSI, yang hingga saat ini untuk urusan pembentukan Dewan Pembina tak kunjung selesai. Sehingga, bagaimana mungkin bisa menguasai Jawa Tengah yang dikenal sebagai salah satu basis suara terbanyak PDIP.
Pilkada memang dipilih oleh masyarakat. Pak Jokowi juga memang punya riwayat, kemudian disusul Gibran. Tapi kan dalam legislatif bukan Jokowi, tapi orangnya, calonnya. Calon ini juga harus dekat dengan masyarakat. Dia buang uang sebanyak-banyaknya, money politic misalnya. Apakah masyarakat bisa menerima? Belum tentu. Karena yang kuat di sana itu masih wajahnya dari partai-partai lama,”
sambungnya
Efriza mencontohkan, organisasi Projo yang sebelumnya menjadi pendukung Jokowi, saat ini sudah sangat rapuh. Tentunya, Kaesang harus memikirkan cara untuk membangun branding PSI di masyarakat.
Selain itu, juga membuat kehadiran PSI dirasakan masyarakat langsung. Kemudian, programnya yang sudah ada dan jelas. Serta, bisa bermain di tingkat masyarakat terkait kebijakan maupun isu yang bersentuhan langsung dengan bawah.
Ini kan tidak. Banjir saja tidak ada Kaesang berbicara. Giring saja tidak ada berbicara. Harusnya mereka itu sudah berbicara soal banjir. Kalau perlu Giring itu di tengah banjir, ya nyanyilah disitulah untuk menghibur masyarakat yang banjir misalnya. Setidak-tidaknya itu PSI ada suaranya. Kalau ini kan, partai suara Indonesia juga tidak. Partai solidaritas terhadap Indonesia juga tidak. Mana solidaritasnya? Tidak ada kebijakan,”
ujar Efriza.

