Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Amien Rais Kritik Gaya Pidato Prabowo: Jangan Gebrak-gebrak, Meja Itu Tak Bersalah!

,Meja atau podium yang menjadi sasaran luapan emosi tidak memiliki kesalahan apa pun, sehingga tindakan tersebut menciptakan kesan negatif

Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Presiden KSPI Said Iqbal (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Presiden KSPI Said Iqbal (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). ( ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz.)

Amien Rais kembali mengritik keras gaya komunikasi dan pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu emosional dan kerap tanpa kerangka yang jelas.

Amien mengingatkan bahwa posisi presiden berbeda dengan jabatan militer yang pernah diemban Prabowo pada masa lalu. Maka ekspresi kemarahan yang ditunjukkan dengan menggebrak meja atau podium tidak lagi relevan untuk seorang kepala negara.

Pilihan EditorRahmat Tunny dan Adi Briantika

Amien Rais Sentil Prabowo: Kurangi ‘Omon-Omon’, Jangan Demam Panggung Tiap Lihat Mikrofon

Jika tidak terpaksa sekali, jangan gebrak-gebrak meja atau podium, menampakkan sedang marah,”

kata Amien lewat video pendeknya, Senin, 8 Juni 2026.

Beda dengan Tentara

Amien menilai gaya kepemimpinan yang mungkin efektif ketika berada di lingkungan militer belum tentu cocok diterapkan saat memimpin sebuah negara dengan ratusan juta penduduk.

Iklan

Dahulu boleh-boleh saja ketika sedang jadi Komandan Kopassus atau Komandan Kostrad, tidak ada masalah,”

ucap dia.

Namun, sebagai Presiden Republik Indonesia, eks Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menganggap sikap tersebut justru berpotensi mengurangi wibawa seorang kepala negara di mata publik.

Presiden Indonesia itu kurang pas kalau sedang marah sambil gebrak meja,”

tegas Amien.

Tak Berdosa, Cuma Diam

Ia bahkan menyebut meja atau podium yang menjadi sasaran luapan emosi tidak memiliki kesalahan apa pun, sehingga tindakan tersebut menciptakan kesan negatif terhadap kepemimpinan nasional.

Menggebrak meja yang tak bersalah dapat mengurangi wibawa atau merusak citra kepala negara dari 288 juta (penduduk) Indonesia lebih,”

jelasnya.

Tak berhenti di situ, Amien juga menyoroti kebiasaan pidato yang terlalu sering dilakukan tanpa struktur pemikiran yang jelas. Seharusnya seorang presiden memiliki arah, substansi, dan kerangka yang kuat, bukan sekadar melontarkan banyak kalimat untuk memuaskan diri sendiri.

Suka pidato, terlepas didengarkan orang atau tidak, pidatonya bermutu atau tidak, tetapi merasa puas karena sudah mengumbar omongan tanpa kerangka, bisa gelagapan ke sana ke mari,”

tutur Amien.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.