Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kerap mengaitkan pengkritik pemerintah dengan “antek asing” dinilai keliru. Narasi tersebut dianggap berpotensi membenturkan sesama masyarakat dan mengaburkan substansi kritik publik terhadap pemerintah.
Saya jadi teringat ketika Presiden Prabowo pernah mengatakan bahwa intelektual Jakarta tidak peduli kepada nelayan, atau menyebut adanya antek asing. Menurut saya, wacana seperti itu berbahaya apabila keluar dari seorang pemimpin. Karena narasi tersebut menempatkan masyarakat seolah-olah saling berhadapan,”
kata Direktur Eksekutif The Indonesian Institute Center for Public Policy Research, Adinda Tenriangke Muchtar kepada Owrite, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut Adinda, kritik yang disampaikan masyarakat seharusnya dipandang sebagai bagian dari kontrol publik terhadap jalannya pemerintahan, bukan langsung dikaitkan dengan kepentingan pihak asing.
Buat Adinda, masyarakat yang menyampaikan kritik justru menunjukkan kepedulian terhadap masa depan Indonesia dan ingin memastikan tata kelola pemerintahan berjalan sesuai prinsip negara hukum.







