Analis Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik Universitas Mercu Buana (UMB) Dr. Syaifuddin mengatakan, respons Plt Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Ulta Levenia Nababan terhadap kritik mahasiswa lebih menonjolkan efek viral dibandingkan argumentasi yang konstruktif.
Logika media digital lebih mengutamakan viralitas dibandingkan kedalaman substansi. Sehingga satu metafora atau sindiran dapat mendominasi percakapan nasional dalam waktu singkat,”
kata Syaifuddin saat dihubungi Owrite, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurutnya, pejabat publik harus memahami bahwa setiap pernyataan yang disampaikan di ruang digital akan dipersepsikan sebagai representasi pemerintah. Karena itu, komunikasi publik harus dibangun dengan mempertimbangkan dampak simbolik yang ditimbulkan.
Fenomena ini menunjukkan, pejabat publik harus memiliki sensitivitas tinggi terhadap dampak simbolik setiap pesan yang dipublikasikan, mengingat setiap unggahan akan menjadi representasi wajah pemerintah di mata masyarakat,”
ucapnya.
Ia menilai, kritik dari mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Dalam pandangannya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral yang mengawal arah kebijakan pemerintah melalui kritik yang berbasis argumentasi.







